Amelia Earhart: Pilot Cantik Pertama

Sebagai seorang perempuan, keberanian yang dimiliki oleh Amelia Earhart patut diacungkan jempol. Keberaniannya-lah yang menjadikanya seorang pilot perempuan pertama yang menerbangkan pesawat melintasi Samudra Atlantik bahkan Samudra Pasifik.

Amelia Earhart adalah seorang anak perempuan dari Edwin dan Amy Earhart. Ia merupakan seorang pelopor penerbangan, penulis dan pejuang hak perempuan di Amerika Serikat. Perempuan kelahiran 24 Juli 1897 di Atchison, Kansas, AS ini ternyata seorang pilot perempuan pertama yang berhasil terbang sendirian melintasi Samudra Atlantik dan menerima penghargaan Distinguished Flying Cross. Selain menjadi pilot, ia juga menulis buku tentang pengalaman terbangnya yang terjual paling banyak dan ia pun memiliki peran penting dalam pendirian Ninety-Nine, organisasi pilot wanita.

 

Terbang Perdana

Kesuksesannya sebagai pilot perempuan diawali ketika ia dan ayahnya pergi ke lapangan udara di Long Beach. Di lapangan udara tersebut, Frank Hawks (seorang pembalap udara) memberinya tumpangan yang ternyata membuat arah hidupnya berubah. Setelah ia terbang selama sepuluh menit, ia pun memutuskan untuk belajar menerbangkan pesawat. Demi tekadnya untuk belajar terbang, ia rela bekerja apa saja. Ia bekerja menjadi fotografer, pengemudi truk dan bekerja di perusahaan telepon lokal untuk mengumpulkan uang sebesar $1000 yang akan dipakai untuk biaya belajar terbangnya.

Akhirnya keinginan Earhart terkabul. Ia melakukan pelajaran penerbangan pertama yang dimulai pada 3 Januari 1921 di lapangan udara Kinner di dekat Long Beach. Tetapi perjuangannya memang tidak berhenti sampai itu saja, Earhart pun harus naik bus sampai di garis akhir dan harus berjalan sejauh 4 mil untuk mencapai lapangan udara. Gurunya bernama Anita Snook, seorang penerbang perintis perempuan, menggunakan Curtiss JN-4 “Canuck” untuk melatih Earhart.

Enam bulan kemudian Earhart membeli sebuah pesawat bersayap ganda kuning Kinner Airster yang dinamainya “Canary.” Pada 22 Oktober 1922, ia menerbangkannya pada ketinggian 14.000 kaki dan menciptakan rekor dunia perempuan. Pada 15 Mei 1923 Earhart menjadi perempuan ke-16 yang memperoleh izin pilot (nomor 6017) oleh Fédération Aéronautique Internationale (FAI).

 

Melintasi Trans-Atlantik

Sebagai perempuan pemberani, Earhart terkenal dalam penerbangannya di Amerika dan Trans-Atlantik. Ketika ia berusia 34 tahun, tepatnya 20 Mei 1932, ia berhasil menerbangkan pesawat  Lockheed Vega untuk misi Trans-Atlantik. Perjalanannya dimulai dari Pelabuhan Grace, Newfoundland. Tujuannya adalah melintas Samudra Atlantik menuju Paris, Perancis.

Ternyata impiannya menjalani misi Trans-Atlantik tersebut mengalami masalah. Setelah terbang dalam waktu 14 jam 56 menit, pesawatnya mengalami masalah mekanis karena kondisi angin yang kuat. Kondisi ini yang membuat perjalanan udaranya tidak berhasil mendarat di Paris melainkan ia mendarat di padang rumput di Culmore, utara dari Derry, Irlandia Utara. Walaupun ia tidak berhasil mendarat di tempat tujuan, namun setidaknya ia telah berhasil melintas melewati Samudra Atlantik sendirian.

Bukan hanya itu, pada 11 Januari 1935, Earhart menjadi orang pertama yang terbang sendiri dari Honolulu – Hawaii – Oakland – California. Penerbangannya pun melalui samudera Atlantik dan kali ini tanpa ada kerusakan mekanik. Selanjutnya, dengan pesawat Vega miliknya yang ia sebut “Bessie tua, kuda api”, ia terbang dari Los Angeles ke Kota Meksiko pada 19 April 1935.

 

Keliling Dunia Kemudian Hilang

Tidak merasa puas dengan melintasi Samudra Atlantik, Earhart memutuskan untuk berkelana keliling dunia. Dimulailah rencana dan persiapan untuk melakukannya. Menurutnya, inilah langkah terbesar dalam hidupnya. Namun langkah ini pulalah yang ternyata akan berakhir tragis dalam kehidupan seorang legenda dan ikon penerbangan perempuan ini.

Dalam rencananya melakukan perjalanan keliling dunia, Earhart memutuskan untuk mengganti pesawat kesayangannya Lockheed Vega dengan Lockheed Electra. Lalu ia pun merekrut dua orang temannya yaitu Harry Manning dan Fred Noonan sebagai ahli navigasinya. Walaupun perjalanannya mengalami masalah beberapa kali namun tidak menghilangkan semangatnya untuk mengelilingi dunia. Dengan menggunakan jalur penerbangannya ke arah barat, ia melewati Amerika Selatan, Afrika, lalu Asia Tenggara dan akhirnya ia sampai di Papua Nugini. Pemberhentiannya di Papua Nugini menjadi pemberhentiannya yang terakhir sebelum lepas landas menyebrangi Samudra Pasifik dan kembali ke rumahnya. Namun karena ada permasalahan pada pesawat yang ditumpanginya akhirnya ia mendarat di pulau Howland, Samudra Pasifik.

Pada saat ingin mendarat di pulau Howland, sinyal radio pada pesawatnya mengalami gangguan. Mulai dari banyaknya sinyal palsu, transmisi yang terganggu dan kesalahpahaman dalam perbincangan dengan stasiun pemancar menjadi faktor-faktor Earhart tidak bisa menemukan tempat yang tepat untuk mendarat. Akhirnya dengan bahan bakar yang menipis dan hilangnya kontak pesawat dengan stasiun pemancar. Kemudian Earhart dan pesawatnya dinyatakan hilang.

Pencarian pun dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Namun Earhart tetap tidak dapat ditemukan. Ia dinyatakan hilang 2 juli 1937 dan dinyatakan meninggal hampir 2 tahun setelahnya. Walaupun penyebab hilangnya masih menjadi misteri, Amelia Earhart dikenal sebagai seorang petualang, visioner, ikon dan legenda serta sosok pemecah banyak rekor yang selalu dikenang oleh warga Amerika Serikat.

Kehilangan Amelia Earhart menjadi duka yang mendalam bagi warga Amerika. Karena sosok perempuan pemberani dan revolusioner itu sangatlah dikagumi oleh semua warga Amerika. Pihak Amerika Serikat pun melakukan upaya pencarian besar-besaran, bahkan yang terbesar di masa itu. Namun hasilnya tidak membuahkan apapun. Meskipun akhirnya Earhart dinyatakan meninggal pada 1939, namun hingga saat ini masih banyak penyelidikan untuk mengungkap hilangnya Earhart. Dari situlah, berkembang berbagai dugaan, seperti pesawat yang dikemudikan Earhart jatuh ke perairan dan tenggelam sangat dalam hingga tidak bisa ditemukan. Dugaan lainnya adalah pesawatnya kehabisan bensin mendarat di pulau terpencil yang tidak berpenghuni, Pulau Nikomaroro. Earhart terdampar di sana hingga akhir hayatnya. Hal ini didukung penemuan tulang belulang (diduga Earhart) dan rangka besi (diduga pesawatnya). Sampai Maret 2011 lalu, peneliti belum bisa memberi kepastian mengenai tulang belulang tersebut.

Ada lagi dugaan bahwa Earhart ditangkap tentara Jepang ketika mendarat di salah satu pulau mereka. Ia dianggap sebagai mata-mata yang dikirim Amerika. Dugaan ini mendapat bantahan dari pihak Jepang. Selain itu, ada sebuah buku yang menceritakan bahwa Earhart selamat, namun ia memutuskan untuk ”menghilang”. Ia pindah ke kota lain dan mengganti namanya. Cerita yang kabarnya diklaim sebagai hasil penelitian dan dibukukan. Namun, wanita yang disebut-sebut sebagai Earhart, merasa cerita dalam buku tersebut bohong dan mengajukan tuntutan.

Hingga saat ini penelitian terhadap misteri hilangnya Earhart masih terus dilakukan. Berbagai teori  beserta sanggahan dan perdebatan pun terus bermunculan. Semoga saja kebenarannya segera terungkap tentang keberadaan sang sosok perempuan pemberani ini.

 

Penulis : Novita Puspa

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment