Hijau 

Berguru pada Negeri Terhijau di Dataran Eropa

Tahun 2014 lalu, Kopenhagen dinobatkan PBB sebagai Kota Terhijau dan Terbersih di Eropa (The European Green Capital 2014). Penobatan ini tentunya bukanlah tanpa alasan. Kopenhagen merupakan wajah Denmark, negara yang sukses melepaskan diri dari ketergantungan terhadap energi fosil melalui kebijakan energinya. Kebijakan energi yang berubah haluan 180 derajat itu pun menjadi tonggak Revolusi Energi dan Pembangunan di Denmark.

Krisis Energi

Semua berawal dari krisis energi yang melanda dataran Eropa pada era 1970-an. Denmark, yang kala itu berada dalam masa kejayaan sebagai negara industri perkapalan dan industri berat, tanpa ragu mengubah kebijakannya secara drastis demi melepaskan diri dari krisis energi. Kebijakan baru yang mendukung pemanfaatan energi terbarukan tersebut merupakan salah satu langkah Denmark dalam memantapkan komitmennya untuk efisiensi energi dan tidak lagi bergantung pada energi fosil.

Kebijakan tersebut berlanjut dengan upaya pengetatan konsumsi energi di Denmark. Kemudian, semakin dikuatkan dengan adanya kebijakan pengenaan pajak energi, penghematan energi pada bangunan, serta pemberian subsidi untuk program efisien energi.

Kebijakan energi terbarukan dan efisiensi energi ini diterapkan secara konsisten dan dalam jangka panjang oleh Pemerintah Denmark. Kemandirian dan efisiensi energi digalakkan Pemerintah Denmark sebagai sebuah isu yang bukan sebatas pada bahan pencitraan ataupun slogan. Melainkan, juga sebagai agenda politik sekaligus komitmen bersama Pemerintah dan masyarakat.

Tak ayal, kebijakan ini pun telah mampu mengubah struktur energi di Denmark dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Perubahan struktur energi tersebut ditandai dengan tergantikannya minyak bumi dan batu bara oleh sumber energi terbarukan dan gas alam. Tidak hanya berubah, konsumsi energi Denmark—bahkan dalam 30 tahun terakhir—tidak mengalami pertumbuhan. Dimana, Denmark berhasil mempertahankan tingkat konsumsi energi di tahun 2010 setara dengan tingkat konsumsi energi di tahun 1980.

Sementara, ekonomi Negeri “Little Mermaid” ini terus bertumbuh sebesar 70%. Dengan demikian, Denmark tidak hanya sukses mengendalikan konsumsi energi dalam energinya. Akan tetapi, juga telah berhasil menggugurkan “mitos” bahwa konsumsi energi akan selalu meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan Denmark tersebut tercatat dalam laporan Lean Energy Cluster yang berjudul “Less Energy—More Growth, Prosperity Through Efficiency”.

Kebijakan “Hijau”

Keberhasilan Denmark dalam mengatasi krisis energi tak terlepas dari prinsip yang telah mendarahdaging, baik dalam tubuh Pemerintahan maupun masyarakatnya, yaitu bahwa energi yang paling murah adalah energi yang tidak pernah digunakan. Karena itu, efisiensi energi pun menjadi target bersama yang harus dicapai.

Dalam kebijakan “Energy Strategy 2050” yang dicanangkan pada 2011 lalu, Denmark menargetkan akan menjadi negara dengan intensitas karbon yang rendah dan pasokan energi yang stabil pada 2025 mendatang. Kebijakan ini pun didukung oleh sejumlah kebijakan lainnya yang ditetapkan Pemerintah Denmark, seperti kebijakan pengenaan pajak energi yang sangat tinggi, kebijakan tentang penghematan energi pada bangunan, serta kebijakan tentang pemberian subsidi untuk program efisiensi.

Pemerintah juga menerapkan prinsip “stick and carrot” (hukuman dan ganjaran) terkait penggunaan energi. Dalam prinsip tersebut, pemerintah mengenakan biaya yang tinggi kepada masyarakat yang boros energi. Sebaliknya, masyarakat yang telah berhemat energi dengan menggunakan energi secara efisien akan mendapatkan insentif.

Pajak yang tinggi juga dikenakan untuk kendaraan bermotor sehingga mendorong masyarakat untuk beralih kepada jenis kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan, yaitu sepeda. Ditambah lagi, biaya parkir kendaraan yang lumayan tinggi, 6 Euro per jam, semakin mendorong masyarakat untuk bersepeda. Hingga saat ini, 35% masyarakat Denmark telah bersepeda. Jumlah masyarakat bersepeda ditargetkan mencapai 50% pada tahun 2015.

Kemudian, penghematan energi pada bangunan diterapkan melalui “kode etik” bangunan. Semua bangunan di Denmark, khususnya bangunan-bangunan baru, harus memiliki sertifikat “bangunan/rumah hijau” yang diterbitkan oleh Danish Energy Authority. Bangunan bersertifikat hijau bernilai lebih tinggi dibandingkan bangunan-bangunan yang tidak mengusung kaidah hemat energi. Meskipun lebih mahal, biaya operasional bangunan hijau jauh lebih rendah.

Bahkan, Denmark telah berencana untuk memasang 60 ribu m2 panel surya di setiap bangunan yang ada. Denmark juga menargetkan peningkatan lahan hijau melalui pembangunan 14 taman kecil yang terbuka untuk umum (pocket parks) dan penanaman 3000 pohon. Kebijakan “hijau” berhasil pula diwujudkan dalam sistem pengelolaan sampah kota. Di Kopenhagen, misalnya, angka daur ulang sampah sangat tinggi sehingga mampu mengurangi sampah-sampah yang masuk ke tempat pembakaran sampah dan laut secara signifikan.

Industri “Angin”

Kebijakan hijau Denmark yang memberikan pengaruh cukup besar adalah pengembangan energi terbarukan dan industri teknologi ramah lingkungan. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang berjudul “Cleantech The Gloden Egg of Danish Economy”, di Denmark telah beroperasi lebih dari 1.200 perusahaan teknologi ramah lingkungan, yang seperlimanya bergerak di sektor efisiensi energi.

Salah satu industri teknologi ramah lingkungan yang berkembang sangat pesat adalah industri turbin angin. Bahkan, industri turbin angin Denmark telah menguasai 30% pangsa pasar turbin angin di dunia. Perkembangan industri ini didorong oleh keberhasilan Denmark dalam memanfaatkan energi angin sebagai sumber energi alternatif utama dalam negeri.

Kondisi geografis dan iklim Denmark telah menyediakan energi angin yang sangat menguntungkan. Maka, energi angin ini pun dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin-turbin angin yang terpancang pada Taman Angin, baik yang berada di daratan maupun lepas pantai. Taman Angin di Denmark tersebut tak ubahnya pembangkit listrik yang mampu menghasilkan listrik bagi Denmark. Di tahun 2009, 19,40% kebutuhan listrik Denmark berasal dari energi angin.

Saat ini, Denmark telah memiliki Taman Angin berkapasitas 400 MW yang berada di lepas pantai dekat Pulau Anholt. Denmark juga mengembangkan Taman Angin berkapasitas 600 MW, bekerja sama dengan Pemerintah Swedia dan Jerman. Taman Angin ini menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik ketiga negara. Sejak tahun 2009, Denmark telah memiliki 5.100 turbin angin dan menjadikan Denmark sebagai negara yang memiliki Taman Angin Terbesar di Dunia. Menurut Danish Wind Industry Associatian, Industri Taman Angin telah memasok 30,08% listrik Denmark di tahun 2012.

Keberhasilan Denmark dalam menerapkan kebijakan energi hijau ini telah menjadi cetak biru bagi negara-negara Uni Eropa. Sebagai negara yang memiliki potensi besar akan energi terbarukan, Indonesia diharapkan dapat pula “berguru” pada Denmark. Khususnya, dalam upaya efisiensi energi untuk mewujudkan negeri yang hijau dan, tentu saja, tidak bergantung pada energi fosil.

 

Penulis : Dyota Tenerezza

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Transmedia Tahun 2015

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment