Bocah Silem: Para Pencari Logam

Dalamnya laut bukan jadi halangan bagi si Bocah Silem untuk terus mengejar koin koin logam yang dilemparkan oleh para penumpang kapal feri di Pelabuhan Gilimanuk dan Merak. Atraksi mereka menjadi pemandangan tersendiri untuk para penumpang di pelabuhan dan kapal feri.

 

Mengenal Si Bocah Silem

Bocah Silem atau yang juga disebut Arlog, ini adalah para sekumpulan anak-anak yang mencari nafkah lewat atraksi lompat dari pelabuhan atau kapal feri dan terjun berenang ke laut. Kata Silem dalam bahasa jawa itu artinya nyelem atau menyelam, sedangkan Arlog adalah akronim dari Arek-arek Logam. Selain bisa menikmati hamparan laut yang dibatasi oleh daratan itu, aksi-aksi para Silem ini menjadi pemandangan seru untuk dinikmati para penumpang kapal feri dan di pelabuhan.

Tingginya jarak dan dalamnya laut tidak menjadikan nyali si Bocah Silem ini ciut. Mereka akan lompat dari ketinggian kapal dan menyelam hanya untuk mencari logam-logam yang di lempar oleh para penumpang. Biasanya penumpang akan melemparkan logam-logam berkisar Rp 500,- hingga Rp 1.000,- atau uang kertas, bahkan ada yang melempar permen, biskuit-biskuit dan makanan dalam plastik. Setelah itu si Bocah Silem ini akan lompat dan berebut untuk mendapatkan logam atau makanan yang sengaja dilempar ke laut oleh para penumpang.

Umumnya, para Bocah Silem ini adalah para anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai buruh atau berdagang di pelabuhan. Usia mereka pun beragam tapi masih tergolong muda sekitar 8 – 17 tahun. Kebanyakan dari mereka tidak sekolah dan hanya melakukan pekerjaan ini setiap harinya pada pagi hingga senja tiba. Kemampuan berenang dan menyelam serta untuk membantu orang tua mencari nafkah inilah yang menjadi alasan mereka untuk melakukan pekerjaan ini setiap harinya.

 

Atraksi Para Pencari Logam

Keberanian mereka dalam menyelami laut yang dihimpit oleh kapal-kapal besar berpenumpang ini menjadi hiburan tersendiri untuk para penumpang. Hanya dengan memakai celana pendek mereka langsung melompat ke dalam air dari atas kapal atau dari pinggir pelabuhan, dan mulai berteriak-teriak kepada penumpang yang hedak naik dan turun untuk melempar koinnya. Ketika uang koin dilempar, mereka langsung berebut dan menyelam seperti seekor kawanan lumba-lumba yang gesit dan lincah untuk mendapatkan koin di kedalaman air. Semboyan ‘Siapa cepat dia dapat’ itu sudah menjadi motto hidup bagi para Bocah Silem didalam ‘perburuan’ uang logam di dalam air.

Setelah mendapatkan uang logam tersebut mereka akan melambai-lambaikan tangannya dan memamerkan uang logam yang mereka dapat dengan menjepit uang logam tersebut di bibir. Tanda itu artinya mereka meminta logam-logam lagi untuk dilemparkan. Selanjutnya mereka kembali mengejar lemparan uang logam lain, begitu seterusnya.  Kadang ada saja penumpang yang memberi tantangan yang berbahaya, misalnya menyelam melintasi sisi kanan kapal ke sisi kiri kapal. Hal yang berbahaya tersebut ditanggapi oleh bocah-bocah kurus ini. Bagi mereka asalkan imbalannya ada mereka mau melakukannya.

 

Nasib Sang Penantang Laut

Bahaya yang menghadang tidak menjadikan takut untuk terjun kedasar laut hanya demi sekeping uang logam Rp 500 – Rp 1.000 perak. Pendapatan mereka pun tak seberapa, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 saja, tak senilai dengan bahaya yang mengancam nyawa mereka. Pendapatan mereka bisa saja meningkat ketika musim arus mudik tiba tapi tetap saja tidak bisa membayar bahaya yang dihadapi. Selain itu mereka kerap pula diusir oleh petugas keamanan kapal, lalu mereka langsung terjun ke air dan berenang menjauh. Hanya keberanian dan kemahiran serta keberuntungan mereka sajalah yang menjadi modal utama bagi para Bocah Silem ini.

Kemahiran mereka dalam menyelam khususnya dalam teknik pernafasan ini mungkin bisa saja menjadikan mereka anugerah. Mungkin jika diperhatikan dan dilatih kemampuan mereka dalam berenang dan menyelam akan menjadi luar biasa anak-anak tersebut. Siapa tahu jadi jawara renang atau diving. Mudah-mudahan ada yang memperhatikan nasib anak-anak pemberani ini.

Ah, Bocah Silem, nyalimu sungguh luar biasa!

 

Penulis : Novita Puspa

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment