Hijau 

Eco Driving, Mengurangi Polusi dan Hemat Energi

Di Indonesia masih sangat kurang akrab dengan istilah eco drive. Lain halnya dengan Swiss yang secara masif  sudah menerapkan perilaku eco drive guna mengurangi polusi.

Volume kendaraan yang dewasa ini meningkat begitu pesat. Dapat terbayangkan bagaimana permasalahan kemacetan yang terjadi akibat tingkat volume kendaraan yang melebihi kapasitas jalan raya. Khususnya potret kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta di pagi hari saat jam berangkat kerja dan sore hingga malam hari saat jam pulang kerja.

Jika dihitung berapa banyak bahan bakar yang kita habiskan dalam satu hari? Tentunya berapa pula volume polusi yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan yang kita gunakan dalam waktu yang bersamaan dan dilakukan secara terus menerus.

Sudah waktunya kita untuk menggalakkan usaha-usaha ‘hemat energi dan  kurangi polusi’. Salah satu usahanya biasa disebut eco driving, yaitu cara berkendara yang tertib dan benar hingga berdampak pada penghematan bahan bakar dan ramah lingkungan.

Kebanyakan kita kurang mengetahui cara berkendara yang baik dan benar. Padahal dengan berkendara secara benar dapat menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM) dan mengurangi emisi kendaraan. Mari kita kenali cara-cara berkendara yang tepat, tepat guna hingga menghemat energi dan mengurangi polusi.

 

Pertahankan Kecepatan Kendaraan pada Putaran Ekonomis  

Pertama, sedapat mungkin mempertahankan kecepatan kendaraan pada posisi ekonomis. Keuntungannya tidak hanya menghemat bahan bakar, tetapi juga mempunyai effek positif untuk mengurangi emisi. Disamping itu, hal terpenting adalah kita dapat meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang.

Mengapa dalam mengemudi kendaraan sebaiknya kita mempertahankan kecepatan konstan? Karena dengan mengemudi dengan kecepatan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan penggunaan bahan bakar lebih boros.

Selain itu juga jika Anda memacu kendaraan terlalu cepat, dapat memungkinkan Anda untuk melakukan pengereman secara mendadak. Menurut sebuah penelitian, hal tersebut ternyata penyebab dari pemborosan bahan bakar hingga 33 persen.

Contohnya pada kendaraan penumpang kecil untuk mempertahan kecepatan 50 km/jam, mesin hanya memerlukan daya sekitar 5 kW saja, sedangkan pada kecepatan 120 km/jam perlu peningkatan daya sekitar 25 kW.

Berdasarkan hal tersebut, pada kecepatan tinggi kita akan memakai banyak tenaga mesin. Apabila pengemudi berusaha untuk mempertahankan kecepatan, maka energi yang terbuang dan boros bahan bakar dapat dikurangi.

 

Hindari pengereman dan akselerasi yang tidak perlu.

Dengan menghindari akselerasi dan pengereman yang tak perlu serta bisa menghemat bahan bakar  5-10%. Pengereman yang tak perlu dapat memboroskan energi. Oleh karena itu, hindari akselerasi yang ekstrim. Kecuali dalam keadaan terpaksa. Sebenarnya, keadaan terpaksa itu dapat diantisipasi dengan memperhatikan kondisi lalu lintas. Salah satunya tidak mengikuti mobil lain terlalu dekat.

Pasalnya, saat melakukan akselerasi, energi bahan bakar digunakan untuk menggerakkan kendaraan. Sedangkan energi tersebut hilang percuma ketika mengerem.  Energi yang hilang berubah menjadi energi panas pada sistem rem, terutama ketika mengerem  dengan keras dan mendadak.

Dengan demikian, komponen rem menjadi sangat panas karena terjadi perubahan bentuk energi dorong menjadi panas. Oleh karena itu pengereman dan akselerasi yang terjadi berulang kali membutuhkan banyak bahan bakar.

 

Memindahkan posisi gigi dengan tepat

Mesin berbahan bakar bensin atau gas perpindahan transmisi dapat dilakukan sebelum 2500 rpm. Kendaraan bermesin Diesel umumnya pemindahan gigi transmisi dilakukan sebelum putaran 2000 rpm, sedangkan mesin Diesel dengan putaran maksimumnya lebih dari 5000 rpm, perpindahan transmisinya dapat dilakukan seperti mesin bensin.

Perpindahan transmisi/persneling ke yang lebih tinggi pada mesin berbahan bakar bensin atau gas dianjurkankan sebelum putaran 2500 rpm. Sedangkan pada kendaraan bermesin diesel dapat dilakukan sebelum 2000 rpm, sebab mesin diesel efisiensi optimal terjadi pada putaran mesin lebih rendah. Biasanya, pengukur putaran mesin/tachometer dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kapan perpindahan posisi persneling dapat dilakukan.

Sementara untuk mobil yang menggunakan transmisi manual, sebaiknya Anda memindahkan posisi gigi secara efektif. Sebab jika Anda terlambat memindahkan gigi mobil Anda, dapat membuat mobil berbunyi cukup kasar dan pijakan gas lebih berat. Hingga dapat memboroskan bahan bakar.

Seperti yang telah dijelaskan bahwa tenaga mesin diperlukan relatif kecil untuk mempertahankan kecepatan, tidak masalah pada mesin dengan posisi transmisi tinggi dan kecepatan relatif rendah kita menjalankan kendaraan, bahkan hal itu akan menghemat bahan bakar.

Pedal gas hanya menentukan jumlah udara yang masuk ke silinder mesin, sedangkan bahan bakar yang diperlukan dihitung berdasarkan kebutuhan mesin tersebut, oleh karena itu mengurangi sedikit putaran mesin juga mengurangi konsumsi bahan bakar.

Apapun jenis kendaraan bermotor Anda cobalah:   Posisi transmisi setinggi mungkin, putaran mesin serendah mungkin dan pedal gas diinjak lebih dalam.  Berusaha mempertahankan kecepatan ekonomis kendaraan.

 

Memperlambat dengan Lembut  

Ketika memperlambat atau menghentikan kendaraan. Lakukanlah perlambatan dengan lembut dan persneling tetap dalam keadaan masuk.

Pada mesin bensin yang memakai karburator atau mesin diesel yang lebih tua, tidak ada bedanya memperlambat dengan gigi persneling terhubung atau netral. Karena mesin tidak dilengkapi dengan pengontrol elektronis yang dapat memutuskan penyemprotan bahan bakar.

Oleh kareana itu, untuk lebih menghemat bahan bakar dapat dengan cara menetralkan segera transmisi atau menekan pedal kopling bila tenaga mesin untuk pengereman tidak diperlukan lagi. Mesin akan secepatnya kembali ke putaran idel dan sisa energi dorong (kinetis) kendaraan dapat dimanfaatkan sampai ke posisi yang diinginkan.

 

Gunakanlah AC Seperlunya

Di cuaca yang panas wajar kita membutuhkan pendingin ruangan atau Air Conditioner (AC). Namun jika dalam keadaan yang tidak membutuhkan AC sebaiknya dimatikan saja. Sebab penggunaan AC secara terus menerus dapat mengakibatkan pemborosan BBM.

Akan tetapi berbeda halnya bila Anda sedang  dalam kecepatan di atas 80 km/jam, misalnya saat Anda dalam perjalan luar kota atau di tol.  Penggunaan AC akan menghemat bahan bakar jika dibandingkan dengan membuka kaca mobil. Sebab berhubungan dengan sifat aerodinamis waktu kaca terbuka dan kecepatan tinggi, dapat menambah hambatan dan beban mobil ketiga .

Ingat! AC tidak dipakai untuk mendinginkan penumpang. Tetapi membuat kenyamanan dengan suhu dan kelembaban udara yang diatur. Suhu 23º-25ºC adalah temperatur yang menyenangkan. Lebih dingin dari itu dapat membuat rasa tidak nyaman dan memboroskan bahan bakar.  Oleh sebab itu, mari gunakan AC dengan cermat, karena AC adalah beban tambahan mesin.

 

Penulis : Candra Fivetya

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment