Efisiensi Bahan Bakar, Tekan Biaya Operasional Kapal

Dalam industri perkapalan saat ini, dua masalah utama yang jadi perhatian adalah mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi karbon. Sudah banyak penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk menciptakan kapal “hijau” sempurna. Dari sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui sampai dengan memodifikasi desain, industri kapal sudah meningkatkan teknologinya untuk menciptakan dunia perkapalan yang berkelanjutan.

Gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG), mesin berbahan bakar ganda dan modifikasi desain sedang dieksplorasi lebih jauh untuk mengurangi biaya operasional kapal, serta untuk menemukan langkah ramah lingkungan untuk mematuhi regulasi lingkungan yang ketat. Pada artikel ini, kita akan melihat metode-metode untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang biasa digunakan, serta beberapa teknologi yang baru diperkenalkan di industri kapal.

 

  1. Pelumas Udara (Air Lubrication)

Sistem pelumas udara atau juga dikenal dengan Teknologi Gelembung (Bubble), adalah metode untuk mengurangi ketahanan antara lambung kapal dan air laut menggunakan gelembung udara. Ini bekerja dengan prinsip menyuplai udara ke bagian bawah kapal untuk menciptakan gelembung-gelembung kecil yang dapat mengurangi friksi antara lambung kapal dan air laut. Distribusi gelembung udara sepanjang permukaan lambung kapal mengurangsi ketahanan di sana yang dapat menimbulkan efek penghematan energi. Dengan desain lambung kapal yang benar, sistem pelumas udara diharapkan dapat mencapai pengurangan emisi karbon dioksida (CO2), bersamaan dengan penghematan bahan bakar. Silverstream Technologies telah menginstal sistem pelumas udara mereka – Silverstream System pada kapal Norwegia Cruise Line. Ini adalah instalasi komersial pertama untuk memperbaiki efisiensi operasional dan lingkungan, yang bertujuan mengurangi emisi, biaya bahan bakar dan meningkatkan keberlanjutan dalam operasi mereka.

 

  1. Tambahan Baling-Baling Penghemat Bahan Bakar (Fuel Saving Propeller Attachment)

Hyundai Heavy Industries (HHI) telah menggunakan peralatan penghemat energi yang disebut Hi-FIN yang ditempelkan pada pusat baling-baling kapal. Alat ini menciptakan pusaran berlawanan yang mengimbangi pusaran yang dihasilkan baling-baling, jadi menambah efisiensi tenaga dorong. Berdasarkan rekam jejak selama setahun terhadap peralatan penghematan energi yang diinstal pada pembawa 162.000 m3 LNG, HHI menemukan bahwa Hi-FIN dapat menghemat 2,5% bahan bakar dibandingkan dengan kapal-kapal yang tidak menggunakannya. Jika rasio penghematan dihitung pada basis 8.600 TEU peti kemas, pemilik atau operator peti kemas dapat menghemat sekira US$750.000 setiap tahun, atau US$19 juta dalam 25 tahun atau sepanjang hidup kapal tersebut. Saat ini, HHI akan mengembangkan peralatan tersebut supaya dapat dipasang pada hampir setiap jenis kapal, termasuk VLCC, pembawa LPG dan peti kemas.

 

  1. Sistem Onboard DC Grid

Sistem Onboard DC Grid diperkenalkan oleh ABB untuk membantu kapal-kapal mengurangi konsumsi bahan bakar, kebisingan dan pengaruh lingkungan. Sistem ini memperbolehkan mesin berjalan pada kecepatan bervariasi untuk efisiensi bahan bakar, yang pada setiap levelnya telah diidentifikasi mampu menurunkan konsumsi bahan bakar sampai dengan 27%, dan juga mengurangi kebisingan kamar mesin sampai 30%. Informasi tersebut berdasarkan penghitungan dan tes yang dilakukan oleh Pon Power dan ABB di kapal Dina Star, yang berada di Myklebusthaug Offshore.

 

  1. Sistem Low Loss Hybrid

Sistem Low Loss Hybrid (LLH) yang diciptakan Wartsila adalah teknologi inovatif yang mengutilisasi berbagai sumber energi yang dikombinasikan dengan peralatan penyimpanan energi untuk mengoperasikan pemindah utama mendekati kinerja optimalnya. Fitur kunci dari sistem adalah kemampuan untuk mengurangi beban mesin sementara yang menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar dan menambah emisi. Sistem LLH Wartsila terintegrasi dengan unit kontrol pembalik dan menghubungkan dengan sistem manajemen tenaga konvensional. Lebih jauh, dengan meningkatkan redudansi energi, sistem tersebut mengizinkan mesin untuk beroperasi pada poin desain maksimalnya yang memiliki efisiensi tertinggi dan emisi terendah. Sistem hybrid control adalah elemen kunci dalam pengontrolan dan stabilitas total dari sistem listrik dan alur energi kapal. Sebagai tambahan dari penghematan bahan bakar yang mencapai 15%, berdasarkan tipe dan konfigurasi profil mesin dan misi, LLH menjamin reduksi substansial dalam emisi gas buang.

 

  1. “Nose Job” – Memodifikasi Bulbous Bow Kapal

Memodifikasi bulbous bow kapal adalah cara paling efisien untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kapal. Perusahaan seperti NYK Group dan Maersk Line sudah sukses menggunakan teknik ini untuk memperbaiki konsumsi bahan bakar. NYK Group telah membuat penyesuaian untuk penghematan energi bulbous bow kepada sebuah kapal peti kemas, yang hasilnya adalah pengurangan emisi karbon dioksida sebesar 23% selama enam bulan. Sementara, Maersk Group berhasil menurunkan biaya bahan bakar sekira 8% pada lingkungan slow-steaming saat ini.

 

  1. Teknologi Fuel Oil Emulsion (FOE)

Teknologi Fuel Oil Emulsion (FOE) oleh Blended Fuel Solutions membakar lebih sempurna daripada bahan bakar yang tidak dimodifikasi, jadi di sini menggunakan bahan bakar lebih sedikit, emisi lebih rendah, mesin lebih dingin, sehingga tidak membutuhkan banyak perawatan. Tentu saja hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan penghematan finansial yang signifikan. Sebuah percobaan yang dilakukan terhadap Teknologi FOE itu menunjukkan penurunan dari konsumsi bahan bakar dan emisi.

 

  1. Tenaga Angin dan Surya

Tenaga angin dilihat sebagai salah satu sumber energi alternatif yang paling menjanjikan untuk kapal-kapal di laut. Berbagai macam teknologi dan metode sudah dieksplorasi untuk memanfaatkan kekuatan tenaga angin. Percobaan di laut untuk teknologi pendorong angin yang baru dari Norsepower mengonfirmasikan penghematan bahan bakar sebesar 2,6% dengan menggunakan satu rotor berlayar yang kecil. Serta, ada juga sebuah desain baru dari ro-pax vessel yang diluncurkan Deltamarin, yang menggunakan enam rotor berlayar untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Seperti tenaga angin, tenaga surya juga dieksplorasi secara ekstensif sebagai sumber energi alternatif pada kapal. Tenaga eco-marine sudah sukses mencoba solusi tenaga surya, yang sekarang akan dirilis untuk penggunaan komersial.

Di samping teknologi dan metode yang disebutkan di atas, sudah banyak riset yang dilakukan pada bidang anti-fouling paints, software dan mesin kapal laut yang konsumsi bahan bakarnya rendah. Diharapkan dengan kecepatan terbentuknya teknologi baru di industri perkapalan, maka akan semakin banyak lagi solusi yang hadir untuk mengatasi persoalan lingkungan dan efisiensi energi.

 

Penulis : Ria E. Pratiwi

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Lintas Nusa Edisi 24 – 2016

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment