Figur 

Handaka Santosa Ibu Merupakan Wanita Idola Saya

Good looking dan berwibawa. Demikian kesan pertama yang kerap hadir saat kita berkenalan dengan “Pak Handaka”, demikian sebutan pria bernama lengkap Handaka Santosa ini. Meski bukan pertemuan pertama dengan beliau, kesan serupa tetap menyesaki benak kami tatkala menyambangi lulusan Fakultas Teknik Sipil, Universitas Diponegoro, Semarang, ini. Pertemuan di Senayan City, yang merupakan kantor keduanya setelah “markas besar-nya” di Agung Podomoro Land (APL) Tower ini mengemban beberapa misi. Pertama adalah hendak mengupas lebih detil tentang serba-serbi Yayasan Agung Podomoro Land (YPAL). Dan kedua, kami juga ingin mengenal lebih jauh sosok profesional yang charming, ramah dan apik tersebut. Terutama pendapatnya tentang wanita! Sebuah tema yang sangat menarik, apalagi bila dilontarkan kepada pribadi beliau yang “gentleman”.

“Setiap orang, pertama kali mengenal wanita tentunya dari sosok seorang ibu”. Demikian pendapat seorang Handaka Santosa tentang wanita. Menurutnya sosok ibu merupakan seseorang yang mengasihi anaknya dengan keseluruhan jiwa dan raga. Meski terkesan klise, namun berlandas pada lontaran-lontaran pemikirannya tersebut, maka tak mengherankan jika ia memilih sosok Sang Bunda sebagai wanita idolanya. ”Karena dari beliau saya merasakan kasih seorang wanita,”ujar Handaka penuh makna.

Pria kelahiran Solo, 20 April 1956, ini mengungkapkan bahwa pada jaman yang serba maju ini, emansipasi wanita sangat penting dan perlu dilakukan. “Karena seperti kita tahu bahwa seorang wanita mempunyai peran yang lebih luas. Tidak hanya berperan sama seperti pria namun juga berperan sebagai pria itu sendiri,” tutur Handaka lebih lanjut.

Melengkapinya, Handaka menambahkan, wanita juga memiliki karakteristik yang sangat baik dalam mendidik dan mengarahkan buah hatinya. Dia menyebutkan, wanita ditakdirkan mempunyai sifat yang lebih lembut, lebih kasih pada putra-putrinya serta dapat mendampingi seorang suami. “Bagi saya pribadi, saya lebih menyukai wanita sebagai sosok pendamping dimana hal tersebut memang sesuai dengan kultur Jawa tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Keberhasilan yang saya raih saat ini didalam karir maupun organisasi juga merupakan andil adanya wanita yang selalu mendukung, mengerti dan menolong saya kapanpun saya butuhkan” tutur Handaka. Pendamping bukan hanya dalam arti pasif, tetapi pendamping adalah sebagai pendukung dan juga penolong diwaktu diperlukan.

Di era moderen ini emansipasi wanita terus berkembang, dan para wanitanya pun banyak yang mempunyai posisi sejajar seperti pria. Mulai dari kepala daerah, anggota DPR hingga Presiden. Dan menurut Handaka pun emansipasi wanita di Indonesia masih dalam batasan-batasan yang baik. Meskipun ada beberapa orang yang secara pribadi agak kebablasan dalam mengartikan emansipasi. “Karena emansipasi yang terlalu kebablasan, saya juga kurang setuju,” imbuh Handaka.

Didukung dengan pribadi Handaka yang apik, Handaka tentu banyak ditempa oleh ragam pengalaman berharga selama bekerja sebagai profesional. Setamatnya dari kuliah, Handaka langsung mempraktekkan ilmunya dengan bekerja di Gajah Mada Plaza (1981 – 1989) dengan jabatan terakhirnya sebagai seorang Direktur. Selepas dari Gajah Mada Plaza, Handaka kemudian bergabung bersama Grup SOGO selama 17 tahun hingga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Grup SOGO. Dan pada tahun 2005, Handaka bergabung dengan Agung Podomoro Group sebagai induk dari Senayan City, tempat inilah yang akhirnya menjadi pilihan profesi profesional Handaka hingga saat ini.

Kini selain menjabat sebagai CEO Senayan City, Handaka masih harus membagi waktunya di APL sebagai Vice President Director serta Wakil Ketua Yayasan Agung Podomoro Land (YAPL). Di luar itu, pria berkaca mata ini juga aktif dalam Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat APPBI. Dalam Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Handaka kini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Tidak hanya itu saja, Handaka juga aktif berkecimpung di Kamar Dagang Industri (Kadin), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta serta menjadi Ketua Panitia Pelaksana Festival Jakarta Great Sale (FJGS).

Ketika di tanya mengenai kesanggupannya terlibat secara aktif di berbagai organisasi dan perusahaan, Handaka mengakui bahwa dirinya merasa kurang lengkap jika hanya berkecimpung di dunia bisnis. “Meski perlu waktu dan energi ekstra namun saya ingin memberikan warna dan memberikan satu dorongan kepada organisasi-organisasi di mana saya berada di situ,” pungkasnya menutup pembicaraan.

Penulis : Chairudi Bharata Dharma

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah PODOMORO April-June 2013

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment