Hovding, Helm Berkantong Udara

Airbag atau kantong udara, lumrah ditemukan pada mobil sebagai salah satu perangkat keselamatan berkendara. Namun kini, Airbag tak lagi hanya bisa melindungi pengguna kendaraan beroda empat saja. Teknologi ini telah diusung sebagai fitur keselamatan beragam jenis kendaraan, tanpa terkecuali sepeda. Kendaraan tak bermotor inipun telah memanfaatkan teknologi Airbag sebagai helm pelindung bagi pengendaranya.

 

Teknologi Airbag

Airbag merupakan sebuah inovasi yang dikembangkan oleh Walter Linderer (Jerman) dan John Hedrik (Amerika) di tahun 1951. Di awal pengembangannya, Airbag belum bisa berfungsi sebagai alat keselamatan. Kemudian, Airbag dikembangkan lebih lanjut pada tahun 1968 oleh Allen Breed yang melengkapinya dengan sistem sensor dan keselamatan.

Teknologi ini pun digunakan pertama kali di tahun 1973 oleh produsen mobil Ford. Jejak ini diikuti oleh produsen mobil lainnya hingga muncul kebijakan yang mengharuskan Airbag pada kendaraan di AS pada tahun 1998.

Generasi awal mobil ber-Airbag hanya menggunakan Airbag pada tempat pengemudi yang ditempatkan di bagian kemudi. Pada generasi-generasi selanjutnya, Airbag tidak hanya di bagian pengemudi, tetapi juga pada sisi penumpang, kursi belakang, hingga di bagian pintu mobil untuk mengantisipasi tabrakan dari samping.

 

Konsep Invisible Helmet

Belakangan, pemanfaatan teknologi Airbag semakin luas. Teknologi ini pun dikembangkan oleh dua orang mahasiswa Universitas Lund (Swedia), Anna Haupt dan Terese Alstin, dalam proyek tugas akhirnya di tahun 2006. Keduanya mengembangkan Airbag sebagai helm keselamatan bagi pengendara sepeda.

Gagasan helm kantong udara ini didorong oleh kebiasaan orang bersepeda tanpa helm. Dari hasil survei yang dilakukan Haupt dan Alstin, kebiasaan tidak menggunakan helm ini dikarenakan bentuk helm sepeda yang kurang modis, kurang estetis, dan tidak praktis serta membuat gerah dan rambut berantakan. Jikalau harus menggunakan helm, mereka menginginkan helm yang tak terlihat atau invisible.

Alasan inilah yang memunculkan ide untuk membuat sebuah helm yang tak terlihat (invisible helmet) dan satu-satunya teknologi yang paling memungkinkan untuk mewujudkannya adalah teknologi Airbag. Disamping alasan tersebut, dari hasil penelitian, Haupt dan Alstin juga menemukan bahwa helm sepeda pada umumnya dibuat dari plastik konvensional dan pelindung berbahan busa yang—ternyata tidak mampu melindungi kepala secara maksimal dari cedera fatal saat terjadi kecelakaan.

Maka, setelah melalui delapan tahun masa penelitian, akhirnya terciptalah sebuah helm kantong udara yang sangat inovatif yang diberi nama Hovding. Kini, helm Hovding ini pun sudah diproduksi secara massal oleh produsen kantong udara asal Swedia, Alva Swedia.

 

“Kerah” Helm

Tidak seperti helm kebanyakan, Hovding berbentuk menyerupai kerah. Sekilas, Hovding tampak seperti syal empuk yang dilingkarkan di leher. Bedanya, “kerah” yang satu ini berisi gas helium yang bekerja dengan mengandalkan sensor gerak. Sensor gerak bekerja dengan tenaga baterai yang bisa diisi ulang. Jika dipakai rata-rata 30 menit setiap harinya, baterai sensor bisa bertahan hingga sekitar enam minggu.

Saat terjadi kecelakaan, sensor gerak akan segera merespon dan langsung diteruskan ke wadah helium hingga kantong pun mengembang. Kantong udara akan mengembang hanya dalam waktu 0,1 detik sehingga mampu melindungi kepala sebelum sempat terjadi benturan. Kantong ini akan terus mengembang sampai beberapa detik jika terjadi benturan kedua.

Kantong udara Hovding  ini menutup seluruh bagian kepala dan leher. Dengan demikian, Hovding mampu melindungi lebih banyak bagian kepala dan leher dibandingkan helm sepeda konvensional. Bahkan, berdasarkan hasil uji coba, helm Hovding memiliki daya serap benturan hingga tiga kali lipat lebih besar daripada helm konvensional.

 

Plus Minus

Sebagai produk inovasi, Hovding tentu saja membawa keunggulan sekaligus kelemahan. Di antara nilai minusnya adalah Hovding tidak melindungi pengemudi sepeda dari obyek yang jatuh dari atas. Sensornya disesuaikan hanya untuk mendeteksi kecelakaan sepeda dan belum bisa digunakan selain pengemudi sepeda, seperti pengemudi sepeda motor, pemain skateboard, ataupun pemain ski.

Dari segi harga, untuk sebuah helm, Hovding terbilang mahal. Setiap unit Hovding dibanderol harga 299 Euro atau sekitar Rp 4,5 juta. Namun, jika dibandingkan Airbag pada mobil, Hovding jelas jauh lebih murah dengan manfaat yang hampir sama. Dari segi ketersediaan, pemasaran Hovding pun masih terkonsentrasi di kawasan Eropa dan Inggris Raya.

Kekurangan lainnya adalah helm ini hanya untuk “sekali pakai”. Setelah sekali mengembang, Hovding tidak bisa digunakan lagi. Kendati demikian, produsen helm telah menawarkan kebijakan penggantian kepada pengguna Hovding, yaitu adanya potongan harga sebesar 50% untuk pembelian selanjutnya.

Namun, di balik kekurangan-kekurangan tersebut, pengguna Hovding jelas bisa menikmati manfaat yang ditawarkan. Selain perlindungan maksimal terhadap kepala dan leher dari benturan akibat kecelakaan, bentuknya yang menyerupai syal bisa bermanfaat sebagai penahan hawa dingin. Secara estetika, helm ini jelas lebih modis, tidak gerah, kepala tetap bebas bergerak, dan tidak membuat rambut berantakan.

Keistimewaan lainnya adalah helm ini telah dipersenjatai fitur black box. Tak ubahnya black box pada pesawat terbang, black box pada Hovding juga berfungsi untuk merekam data kecelakaan yang pernah terjadi. Data ini akan dikirimkan kembali kepada perusahaan pembuat helm Hovding. Dengan berbagai keunggulan yang diusungnya, Hovding diharapkan bisa mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan dalam berkendara dengan selalu mengenakan helm saat berkendara.

 

Penulis : Dyota Tenerezza

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Transmedia

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment