Kemiren, Desa Adat Banyuwangi

Indonesia sangat kaya akan adat istiadatnya. Di masing-masing daerah memiliki tradisi dan budaya tradisional yang khas. Sehingga tak heran jika Indonesia memiliki beberapa desa adat unik yang dijadikan destinasi wisata menarik dan edukatif. Salah satunya adalah desa adat Kemiren di Banyuwangi.

 

Cagar Budaya Osing

Desa Kemiren merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dengan luas sekitar 117.052 m2 . Desa yang pada awalnya bernama Kemirian yang berarti banyak pohon kemiri, duren dan aren, mayoritas dihuni oleh lebih kurang 3000 jiwa suku asli Banyuwangi, suku Using atau biasa dikenal Osing.

Pemerintah Banyuwangi menjadikan desa ini sebagai Desa Adat Wisata Osing dan cagar budaya untuk melestarikan budaya khas keosingannya. Terlebih, terdapat  Area wisata budaya yang terletak di tengah desa itu menegaskan bahwa desa ini berwajah Osing dan diproyeksikan sebagai cagar budaya Osing.

Pasalnya, Kemiren memiliki berbagai keunikan mulai dari adat, tradisi, kesenian, dan kuliner. Bahkan pola hidup masyarakatnya masih menjaga tradisi yang ada sejak dulu. Ditambah keistemewaan pada penggunakan bahasa yang khas, yaitu bahasa Osing.

Saat berkunjung ke desa tersebut, wisatawan tentu akan menjumpai berbagai macam kesenian seperti seni Barong, Kuntulan, Jaran Kincak (kuda menari), mocopatan (membaca lontar kuno). Tak tertinggal juga tari Gandrung yang mayoritas penarinya terkenal berasal dari desa Kemiren.

 

Kasur Merah dan Hitam

Tradisi yang tak ditinggalkan orang suku Osing di Kemiren banyak rupanya. Salah satu kekhasan tradisi yang masih terjaga adalah kepemilikan motif dan warna kasur yang sama dengan hitam dibagian atas dan bawah, dan merah di pada tepinya. Sesuai tradisinya, kasur tersebut akan dimiliki oleh pasangan pengantin yang diberikan orang tuanya.

Secara filosofi, warna merah kasur tersebut melambangkan penolak bala. Sedangkan warna hitamnya menyiratkan kelanggengan dalam rumah tangga.

Selain itu, terdapat satu tradisi unik terkait kasur tersebut, yaitu tradisi  “Mepe Kasur”. Ketika itu, seluruh masyarakat Kemiren mengeluarkan kasur tersebut untuk di jemur di sepanjang jalan desa Kemiren.

Menurut para tetua adat setempat, tradisi “Mepe Kasur” dilakukan untuk mengusir segala macam penyakit. Karena dipercaya sumber segala penyakit berasal dari tempat tidur.

Disamping itu, tradisi ini menjadi salah satu rangkaian dari tradisi tumpeng sewu “ritual bersih desa” yang dilaksanakan pada bulan Dhulhijjah.

 

Rumah Adat Suku Osing

Uniknya kehidupan dan pemukiman penduduk serta adat-istiadat suku Osing menjadi modal utama Desa Wisata Osing. Oleh karenanya, wisata Osing yang merupakan wisata budaya yang memiliki rumah adat khas.

Saat menyambangi Desa Osing, wisatawan akan disuguhkan pemandangan jajaran rumah-rumah adat Crocogan, tikel /baresan, tikel balung dan serangan yang masih terjaga. Salah satunya di Sanggar Genjah Arum milik salah seorang budayawan Banyuwangi.

Bangunan rumah-rumah ini telah berusia hingga ratusan tahun. Kelebihannya, bangunan ini dirancang tahan gempa, dengan struktur utama susunan empat tiang saka (kayu) balok dengan sistem tanding tanpa paku (Knokdown), melainkan menggunakan paju (pasak pipih).

Perlu diketahui, setiap jenis atap rumah adat ini memiliki makna dan keistimewaan yang berbeda-beda. Selain itu, status sosial suku Osing juga dapat dilihat dari atap rumah adat yang dimiliki.

 

Upacara Adat Unik

Jika datang ke Desa Kemiren saat musim panen, wisatawan akan melihat upacara tradisi panen. Masyarakat setempat yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, setiap musim panen tiba kerap kali melakukan upacara tradisi dengan memainkan musik khas suku Osing, yaitu angklung paglak.

Panggung angklung paglak berdiri setinggi 10 meter, dengan pilar hanya terbuat dari bambu. Sajian musik ini, diperuntukkan untuk mengiringi saat panen tiba sebagai ungkapan terima kasih. Sementara, sajian “pecel pithik” — atau yang biasa dikenal dengan sebutan urap-urap ayam bakar– menjadi kuliner khas suku Osing dengan alunan musik angklung paglak mengiringi petani saat memanen padi.

Keunikan lain desa adat kemiren dalam menjaga tradisi–tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang mereka, seperti Barong ider Bumi,Tumpeng Sewu, dan arak–arakan. Bahkan, hidup berdampingan dengan jiwa gotong royong dan tradisi musyawarah terus terjaga disini.

 

Notes

Untuk sampai Desa Kemiren tidaklah sulit. Jaraknya pun hanya lebih kurang 15 menit perjalanan dengan berkendara motor dari alun-alun kota Banyuwangi. Jadi, janganlah ragu menyambangi Desa Adat Osing untuk mengenal keragaman budaya Indonesia.

 

Penulis : Candra Fivetya

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment