Maroko, Nuansa Wisata Abad Pertengahan

Siapa yang tak kenal Maroko, negara pemilik kota-kota dengan bangunan masjid bermenara indah, daerah pasar yang khas, benteng dan bangunan-bangunan abad pertengahan nan eksotis. Tak heran jika Maroko banyak dikunjungi para pelancong yang penasaran akan beragam keunikan wisatanya.

Dari berbagai sisi kehidupan, budaya, dan sejarah Maroko sangat menarik untuk dieksplor saat menyambangi negara yang berbatasan langsung dengan Gurun Sahara di bagian tenggaranya.

 

Kasbah Eit Ben Haddou

Negara yang mempunyai dua pegunungan terkenal yaitu Pegunungan Atlas dan Pegunungan Rif ini juga dikenal dengan bangunan-bangunan tuanya. Bahkan tak akan ada habisnya wisatawan mengeksplor kota-kota di Maroko dengan berbagai keunikannya. Salah satunya adalah wisata masa lalu Kasbah Eit Beb Haddou, yakni desa tua bangsa Maroko ribuan tahun silam.

Desa kuno tersebut sangat unik dengan bentuk bangunan perumahan kecil-kecil di atas bukit. Pemukiman Suku Berber dijuluki kota tanah liat karena bangunan yang ada di desa ini terbuat dari bahan tanah liat merah. Sebagian penduduknya telah lama meninggalkannya karena keterbatasan fasilitas, listrik, dan air bersih. Sehingga perkampungan tua ini banyak dimanfaatkan sebagai museum. Bahkan saat ini, tercatat Kasbah telah menjadi warisan budaya bangsa asli Maroko, yaitu penduduk Suku Berber.

Diantara kasbah-kasbah yang ada, Kasbah Eit Ben Haddou merupakan kasbah paling terkenal di Kota Ourzazate yang berada diantara Marakesh dan Merzouga. Kasbah yang dibangun sekitar abad ke-17 tersebut telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Saking khas dan menariknya, keindahan Kasbah Eit Ben Haddou kerap kali banyak menjadi lokasi syuting beberapa film kolosal Hollywood, antara lain Sodom and Gomorah (1963), Marco Polo (1982), The Mummy (1999) termasuk Gladiator (2000), dan King of Persia (2010).

 

Marakech, Pasar Tua Pusat Wisatawan

Saat menyambangi Maroko, wisatawan wajib ke kota turis, Marakech. Menariknya, kota tersebut terdiri atas sebagian besar bangunan berwarna merah sehingga diberi julukan “Red City”. Terlebih gaya dan aristekturnya kental akan gaya masa silam. Tak heran jika, kota yang dibangun pada abad ke-11 ini memiliki wisata museum, dan banyak tempat-tempat bersejarah.

Selain itu, kota ini memiliki pasar tua Djemaa El Fna atau yang biasa disebut Medina yang terkenal menjadi pusat wisatawan. Kawasan Medina merupakan kawasan kota tua khas Maroko yang dikelilingi dinding tinggi dengan pintu gerbang sebagai mulut kota. Dahulunya, gerbang tersebut selalu ditutup untuk berlindung dari para perampok dan hanya dibuka pada siang hari.

Kini Medina banyak dikunjungi wisatawan yang bertandang ke Maroko.  Waktu yang tepat untuk mengunjungi Medina adalah malam hari. Di pasar malam Medina ini terdapat sekitar seratus kios makanan menjajakan beragam makanan khas Maroko.

Tak hanya makanan, Pasar Medina juga wisatawan dapat membeli suvenir khas Maroko seperti karpet, gantungan kunci atau magnet, termasuk syal warna khas Maroko. Tak heran jika, ribuan pengunjung yang terdiri atas wisatawan dan penduduk lokal berbondong-bondong datang untuk menikmati malam di Medina.

Pasalnya, selain wisata belanja terdapat juga berbagai pertunjukan seni khas Maroko. Ditambah lagi, terdapat juga penampilan seniman lain seperti para pelawak, pendongeng hingga atraksi para pawang hewan turut meramaikan Medina di malam hari.

 

Masjid Hassan II

Selain daerah pasar yang khas, benteng dan bangunan-bangunan abad pertengahan yang eksotis, kota-kota di Maroko pun umumnya memiliki masjid-masjid dengan menara indah. Salah satunya  Masjid Hassan II yang menjadi ikon Maroko.

Masjid Hassan II  merupakan masjid di pinggir laut Atlantik, di Casablanca yang terkenal dengan kemegahan arsitekturnya. Masjid yang dibangun pada 1980 ini didesain bergaya Arsitektur Moor oleh arsitek berkebangsaan Perancis Michel Pinseau dan dibangun oleh Bouygues.

Masjid tersebut diberi nama Hassan II sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Maroko, Hassan II yang meninggal pada 1999. Secara kapasitas, salah satu masjid terbesar di dunia ini mampu menampung sekitar 25.000 jamaah di dalam dan 80.000 di luar. Biasanya, masjid ramai saat Solat Jum’at dan Solat Idul Fitri.

Keunikan lainnya, terletak pada menara masjid yang berbeda dengan masjid-masjid biasanya. Menara Masjid Hassan II dirancang berbentuk kotak dengan ukiran khas Maroko yang kental nuansa Afrika campur Arab pada sisi-sisinya. Karena keindahan masjid yang berada di tepi laut ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Maroko, khususnya Kota Casablanca.

 

Penulis : Candra Fivetya

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment