Tips 

Meski Tak Menjamin 100%

Menggunakan helm sebenarnya bukan jaminan 100% kita terhindar dari cedera kepala ketika kecelakaan. Meskipun demikian, setidaknya helm dapat meminimalisir terjadinya cedera kepala yang parah dan resiko benturan keras. Oleh sebab itu, sangat diwajibkan mengenakan helm, khususnya helm berkualitas.

Dilihat dari akibat kecelakaan kendaraan bermotor yang sangat berbahaya, tak sedikit  korban kecelakan tidak menggunakan helm memiliki resiko kematian lebih besar. Efek yang pasti terjadi ketika mengalami kecelakaan ialah kondisi kepala terluka, gegar otak, bahkan yang lebih mematikan lainnya.

Selogan Safety First seolah hanya sekedar suatu susunan kata yang tak berarti bagi sebagian pengguna sepeda motor. Pasalnya, fenomena unik yang kerap terjadi di tengah masyarakat kita ialah kurangnya kesadaran untuk menggunakan helm ketika berkendara. Terlebih, suasana ini lumrah terjadi diluar ibu kota. Meski, kewajiban pengendara sepeda bermotor menggunakan helm berstandar telah diatur dalam Undang-undang No. 22 tahun 2009.

Para pengguna sepeda motor ini seolah-olah mengenyampingkan fungsi utama diciptakannya helm.  Sehingga, tak jarang bagi orang awam untuk mengenakan helm sering dianggap hanya sebagai kebutuhan menghindari UU tersebut. Bahkan dalam penerapannya untuk menghindari tilangan pihak berwajib.

Pada dasarnya, pemberlakuan peraturan tersebut bertujuan untuk mendisiplinkan para pengendara bermotor yang tidak memiliki perhatian khusus untuk mengenakan helm. Sebagaimana juga berefek domino untuk meningkatkan keselamatan pengguna sepeda motor.

 

Gunakan Yang Berkualitas

Aspek lain yang dapat meningkatkan keselamatan pengendara motor ialah menggunakan helm berstandar, sehingga terjamin kualitasnya. Sebelum membeli kenalilah ciri-ciri helm berkualitas.

Helm berkualitas pada umumnya memiliki standar bahan cangkang yang lumayan tebal dan tahan terhadap benturan. Selain itu, lapisan cangkang luarnya pun membungkus seluruh kepala, dengan menyisakan ruang yang cukup untuk memandang ke depan dan melirik kesamping.

Jika ditilik dari segi bentuknya sudah berstandar, helm berkualitas biasanya menawarkan pilihan ukuran lingkar kepala. Oleh sebab itu, pilihlah ukuran helm yang pas dengan kepala kita. Pada helm terdapat label ukuran mulai dari XS, S, M, L, XL, dan XXL. Huruf-huruf tersebut menandakan besarnya lingkar rongga helm yang disesuaikan dengan lingkar kepala si pemakai. Menggunakan helm terlalu sempit dapat mengganggu aliran darah dalam kepala. Sehingga memungkinan kita akan merasakan pusing, sakit kepala, bahkan sesak nafas.

Ukuran yang pas sebaiknya didukung dengan berat helm yang proporsional juga. Gunakanlah helm yang memiliki berat cukup ringan atau tidak terlalu berat, agar tidak membebani kepala ketika digunakan.

Selain memiliki fisik yang menunjang keamanan dan keselamatan, helm berkualitas juga pasti disertai dengan Sertifikasi Helm. Hal ini menjadi bukti bahwa helm sudah melewati tahap  standarisasi. Biasanya standarisasi keamanan di masing-masing negara berbeda. Untuk Amerika Serikat mempunyai sertifikasi DOT yaitu Department of Transport atau Snell Memorial Foundation (Snell). Jepang mempunyai Japanese Industrial Standard atau JIS. Sedangkan di Indonesia, helm-helm yang beredar di pasaran wajib mempunyai standar keamanan SNI atau Standar Nasional Indonesia.

Sebagai tambahan, pilihlah helm yang memiliki fitur terlengkap, seperti fitur ventilasi. Di mana fitur ini berfungsi sebagai sirkulasi udara di dalam ruang helm yang berguna untuk membuat nyaman pori-pori kepala.

 

Pastikan sudah klik

Menggunakan helm, bukanlah hanya sekedar masuk kepala. Jika helm yang kita pakai tidak pas, justru akan berbahaya. Oleh karena itu,  kita harus mengetahui cara memakainya dengan baik dan benar. Agar kita dapat merasa nyaman dan aman ketika dalam berkendara.

Ketika helm sudah terpakai, pastikan semua permukaan dalam melekat rapat pada kepala. Tetapi tidak sampai terasa sakit karena terlalu menekan kepala. Dan jangan juga terlalu longgar. Sebab, pemakaian helm dengan ukuran yang benar dapat membuat kita nyaman dan lebih aman.

Setelah kepala masuk ke dalam helm, rasakan pipi seperti sedikit tertekan. Namun, jangan sampai menggangu konsentrasi. Kemudian goyangkan helm ke kiri dan kanan kemudian ke atas dan ke bawah, jika tidak begeser dengan mudah berarti helm sudah pas. Selanjutnya, pastikan pandangan mata tidak terganggu untuk melirik ke kiri dan kanan. Seandainya semua sudah sesuai, berarti helm sudah terpakai dengan baik dan tepat ukuran. Terkahir klikan tali penahan keamanan agar helm tidak mudah terlepas dan ini menjadi kunci keselamatan pada helm.

 

Sayangilah Nyawa Kita!

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, menggunakan helm dengan baik dan benar dapat melindungi kepala dari benturan. Sebagai contoh, kecelakaan yang mengerikan terjadi di Sogo BSD pada penghujung tahun 2014 lalu. Kecelakaan tersebut melibatkan dua buah kendaraan roda dua. Motor A ditumpangi oleh tiga orang dan pengendara lainya dua orang. Tragisnya, kelima orang tersebut meninggal di tempat kejadian dalam seketika. Setelah diusut, penyebab kematian  ialah luka parah di kepala korban akibat benturan keras. Ternyata pada saat kecelakaan terjadi para korban tidak menggunakan helm.

Kejadian lainnya dilansir Autoevolution, Rabu (18/9/2013), sebuah kecelakaan yang terekam oleh kamera kendaraan lainnya ini terjadi di sebuah jalan. Pada awalnya kondisi jalanan umum tersebut sepi tanpa ada pengendara motor yang berlalu-lalang. Namun seketika ada mobil dan motor yang meluncur bersamaan. Alhasil motor tersebut tersenggol dan lepas kendali. Saat motor kehilangan kendali pengendara terpental dan kepalanya membentur tiang besi penunjuk arah. Beruntung pengendara roda dua ini menggunakan helm sebagai pelindung kepalanya. Pengendara motor itu pun terbangun dengan agak sedikit sempoyongan dan mencoba melepas helmnya. Dapat terbayangkan jika pengendara malang itu tidak menggunakan. Oleh karena itu tetaplah waspada dalam berkendara dan gunakan selalu helm dengan baik dan benar.

 

Helm Dari Masa Ke Masa

Pepatah mengatakan, semua yang terjadi di dunia ini pasti ada nilai yang dapat kita petik. Tak ubahnya dengan awal penciptaan helm. Di ilhami dari sebuah kejadian seorang pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan. Orang ini bernama T.E. Lawrence atau terkenal dengan nama Lawrance of Arabia. Ia mendapat kecelakaan saat sedang mengendarai kuno Brough Superior SS100. Kecelakaan terjadi ketika ia tidak menggunakan pelindung kepala. Pasalnya, saat itu belum tercipta helm untuk sepeda motor. Sehingga ia mendapatkan luka bagian kepala yang sangat serius dan membuatnya koma. Setelah 6 hari di Rumah Sakit, Lawrence pun meninggal dunia.

Sejak saat itu salah satu dokter bedah saraf (neurosurgeon) yang menangani Lawrence bernama Huge Cairns, mulai melakukan penelitian. Penelitiannya dilakukan terhadap pengendara-pengendara motor yang kehilangan nyawa karena luka kepala, akibat kecelakaan motor. Sehingga penelitian Dokter Cairns memicu penggunaan helm untuk militer dan warga sipil.

Sebenarnya, jauh sebelum kejadian tersebut helm sudah tercipta. Penggunaan helm sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Alat pengaman kepala ini menjadi salah satu bagian dari teknologi perang yang terbuat dari besi. Selain itu juga helm digunakan sebagai pelengkap dari baju zirah. Peranannya cukup penting untuk melindungi kepala dari ancaman senjata-senjata musuh. Sehingga perkembangan helm sebagai fungsi keselamatan prajurit perang  berkembang sampai perang dunia II.

Sejalan dengan berkembangnya waktu dan teknologi manusia, helm pun terus berevolusi. Dari sisi aktivitas helm tak lagi hanya dibutuhkan untuk perang. Namun, dikenakan untuk aktivitas-aktivitas sipil seperti olahraga, pertambangan, berkendara atau kegiatan beresiko lainnya. Dari sisi bahan, bentuk, teknologi dan modelnya, helm juga terus mengalami perkembangan dan pernyempurnaan.

 

Varian Penyelamat Pengemudi Motor

Sejalan dengan perkembangannya, sekarang dikenal cukup banyak varian helm. Bentuk-bentuknya pun kini sangat beragam dengan jenis dan merk berbeda-beda.  Helm motor dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis, seperti helm separuh kepala (half face), tiga perempat (modular helmet) dan penuh (full face) dan lain sebagainya.

Pertama ialah helm cetok atau shorty helmet. Karakteristik helm cetok telihat dari bentuknya sangat kecil dan tidak menutupi seluruh kepala. Sehingga helm jenis ini hanya mampu melindungi kepala bagian atas dengan tingkat perlindungan yang sangat minim. Karena tidak adanya bagian yang menutupi telinga, sehingga membahayakan pendengaran pengunanya akibat suara-suara yang ditimbulkan ketika berkendara. Rancangan helm cetok memiliki fungsi yang tak ubahnya topi yang mudah dibawa dan disimpan. Harga helm simple ini biasanya lebih murah dari helm lainnya.

Helm half face termasuk jenis helm yang agak lebih tertutup dari helm cetok. Sehingga tingkat perlindungan keselamatannya sedikit lebih baik. Helm ini pun tidak dilengkapi dengan kaca pelindung pada bagian depannya. Sehingga, tidak bisa melindungi pemakainya dari hujan, debu, angin, serangga bahkan kerikil kecil yang beterbangan di jalan.

Lebih sedikit tertutup dari helm half face dikenal modular helmet. Helm yang berada diposisi ketiga pada tingkat keselamatannya ini sudah dilengkapi dengan kaca pelindung yang mudah dibuka-tutup. Kaca pelindung ini dimaksudkan untuk melindungi wajah pengendara dari hujan, debu dan angin. Sehingga harganya sedikit lebih mahal dibanding jenis half-face.

Selain dari beberapa jenis helm yang dijelaskan sebelumnya, terdapat juga helm full face yang dinilai paling aman untuk digunakan pengendara motor. Sebab, salah satu atribut berkendara jenis ini mampu melindungi hampir seluruh bagian kepala dengan sempurna.

Salah satu jenis helm full face dengan teknologi berbeda dikenal helm Flip-Up. Kelebihannya terdapat pada pelindung dagu bagian depan yang bisa diputar ke atas (flip-up). Sehingga bisa memudahkan pemakainya untuk makan atau minum tanpa harus melepas helm. Sama halnya dengan jenis full-face, jenis flip-up mampu memberikan perlindungan yang cukup baik.

 

Khusus Berlaga Di Motogp

Jika pemerintah yang memperhatikan keselamatan para pengguna sepeda motor dengan menetapkan peraturan helm berstandar. Maka FIM (the Fédération Internationale de Motocyclisme) juga menjadikan helm sebagai alat pengaman utama yang jadi perhatian sebagai unsur keselamatan pembalap. Sehingg tak sembarang helm dapat ikut berlaga di MotoGP.

Helm MotoGP wajib memiliki beberapa standar yang melewati tahap pengujian cukup ketat, agar sebuah helm laik masuk dalam sirkuit. Salah satu keharusannya helm untuk ajang olahraga bergengsi ini ialah memiliki lapisan polystyrene dengan tingkat ketebalan 2,5 cm. Lapisan inilah berfungsi meredam benturan saat terjadi kecelakaan.

Tahap awal helm akan menjalani Flame Resistance Test dengan didinginkan pada suhu -100 C dan langsung dipanaskan pada suhu 500 C. Setelah itu, helm direndam di air selama 12 jam. Uji coba ini dimaksudkan  untuk mengetahui bagaimana keadaan helm saat berada dalam kondisi balapan yang cukup ekstrim.

Tes berikutnya adalah Impact Test. Di mana helm akan dijatuhkan dari jarak 2,5 meter namun dengan kecepatan 20,8 km/jam dengan jatuh pada permukaan besi. Sementara ujian terakhir bernama Positional Stability (Roll-Off) Test terkait dengan kekuatan tali pengamam. Tujuannya untuk memastikan helm tidak terlepas saat sang pembalap terjatuh.

Tes-tes di atas hanya sebagian uji coba yang harus dilewati helm sebelum laik dipakai membalap. Total uji coba yang ada terdiri dari Impact Test, Positional Stability (Roll-Off) Test, Dynamic Retention Test, Chin Bar Test, Shell Penetration Test, Faceshield Penetration Test dan Flame Resistance Test.

  • Helm Khusus Saat Hujan:

Ketentuan dalam ajang MotoGP demi meningkatkan jaminan keselamatan, setiap pembalap  diwajibkan memiliki minimal empat helm untuk setiap seri. Tiga di antaranya adalah helm biasa, sementara satu helm lainnya untuk dipergunakan saat hujan. Helm khusus hujan ini tentu saja dilengkapi teknologi khusus yang membuat kacanya bebas embun meski menjalani balapan saat hujan. Beberapa produsen memberi lapisan film tertentu pada kaca helm sebagai pencegah kabut.

Harga fantastis untuk si Pink

Berbicara helm berkualitas tentu saja berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan. Berbeda halnya dengan helm fantastis yang satu ini. Sebuah helm MotoGP biasa berwarna Pink, namun memiliki harga mencapai 200.000 poundsterling atau jika dikonversikan sekitar Rp. 3.87 miliar.

Helm ini sebenarnya hanyalah helm standar full face buatan AGV. Daya tarik yang membuatnya mahal ialah tanda tangan 12 pembalap top MotoGP mulai era 2 tak 500 cc hingga 4 tak 1000cc. Pembalap top dieranya masing-masing ini antara lain Giacomo Agostini, Angel Nieto, Wayne Rainey, Loris Capirossi, Alex Criville, Wayne Gardner, Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa dan Marc Marquez. Jika gelar dunia mereka dijumlahkan maka totalnya hingga 58 gelar juara.

Seperti yang dilansir oleh Visordown, ide membuat helm AGV berwarna pink ini digagas oleh Alberto Hernandez dan Oscar Haro,mahasiswa dari Universitas Spanyol. Pada akhirnya helm unik ini dibeli oleh Anthony Constantinou, salah satu tim kelas utama LCR Honda, MotoGP.

Diketahui hasil penjualan helm termahal di dunia tersebut akan disumbangkan kepada Asosiasi Penanganan Kanker di Spanyol. Serta dimanfaatkan juga untuk petugas kesehatan yang mempunyai peranan penting dalam melawan kanker di benua Afrika.

 

Penulis : Candra Fivetya

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment