Internasional 

Norry, Kereta Api Bambu Milik Kamboja

Ketika seluruh dunia berlomba-lomba untuk membuat transportasi yang modern dan berteknologi canggih, Kamboja masih setia dengan transportasi tradisionalnya yang unik, yaitu Norry.

Unik dan memiliki nilai sejarah yang tinggi, Kereta Api Bambu Norry di Kamboja tetap dipertahankan oleh sejumlah negara. Di Kamboja, kereta bambu ini berada tepatnya di Desa Battambang, kurang lebih 280 kilometer dari Ibukota Kamboja, Phnom Penh. Selain itu, Norry merupakan alat transportasi untuk menarik para wisatawan baik dari mancanegara maupun dalam negeri.

 

Hikayat Norry

Sebenarnya Kamboja telah memiliki jaringan rel kereta api sejak zaman kolonial Perancis namun akibat perang sipil khmer merah pada tahun 1930 silam yang berkepanjangan rel-rel itu ditinggalkan begitu saja tanpa pernah dilewati kereta api sungguhan.  Tidak adanya transportasi umum tersebut menimbulkan ide kreatif dari penduduk Battambang setempat dan memanfaatkan rel kereta yang terbengkalai tersebut. Warga akhirnya membuat satu moda transportasi alternatif sederhana yang bisa membantu mereka beraktivitas. Untuk itu, penduduk setempat membuat Kereta Api Bambu yang disebut Norry dan digunakan oleh warga Battambang sebagai alat transportasi. Selain itu, moda transportasi ini cukup efektif sekaligus sebagai mata pencaharian mereka.

Para penduduk merakit bambu-bambu sehingga menjadi tempat duduk seperti bale dengan ukuran sekitar 4 x 2 meter dan mampu menampung sejumlah orang di atasnya. Kemudian, bagian bawah kereta diberikan roda-roda yang sesuai dengan lintasan rel kereta api dan dirakit sehingga bisa berjalan. Mesin yang digunakan pun sederhana, yaitu mesin yang bergerak dengan dukungan generator listrik disematkan di bagian belakang sebagai motor penggerak. Kereta ini mampu melaju dengan kecepatan 15 –  40 kilometer per jam. Dengan bentuknya yang sederhana, kereta bambu tersebut bisa menampung 10 hingga 15 penumpang.

Dulu Norry sempat berjaya kala hampir seluruh wilayah Kamboja memanfaatkan alat transportasi ini. Namun seiring berkembangnya alat transportasi modern sedikit demi sedikit, Norry mulai ditinggalkan. Kini tinggal beberapa warga saja yang masih aktif mengoperasikan Norry miliknya. Bagi penduduk yang memiliki Norry akan menawarkan jasanya pada para pelancong yang ingin menikmati alam Kamboja dengan santai.

 

Menikmati Perjalanan dengan Norry

Dalam perjalanannya, Norry melewati rel dan jembatan yang dibangun dan ditinggalkan oleh Perancis. Pengemudi kereta bambu ini juga harus tahu jadwal kereta api yang melintas di rel tersebut agar tidak terjadi kecelakaan karena  jalurnya hanya ada satu.

Jalurnya yang hanya satu, menyebabkan kereta ini sering bertemu dari arah yang berlawanan. Lalu bagaimana jika dua kereta bambu dari arah yang berlawanan tersebut bertemu? Jawabannya sederhana, Norry dengan penumpang paling sedikit harus rela memberikan prioritas jalan dengan cara membongkarnya dan membawanya ke samping rel. Setelah Norry lainnya lewat, baru Norry tersebut kembali ke posisi semula dan membawa penumpangnya ke tujuan.

Dengan menggunakan Norry, kita dapat menikmati perjalanan dengan sensasi perjalanan yang menyenangkan karena dapat menghirup udara bebas. Transportasi yang tidak beratap ini, juga memungkinkan kita dapat melihat segala sesuatu yang ada di sekitar dalam perjalanan. Namun, tetaplah siapkan payung juga untuk mengantisipasi jika hujan turun, tidak lain disebabkan karena Norry tidak memiliki atap.

Kita bisa menaiki kereta tersebut dari daerah O Dambong, yang tidak jauh dari jembatan Old Stone di Battambang, Kamboja. Dengan menggunakan Norry, kita akan dibawa pergi ke arah tenggara menuju O Sra Lav dengan jarak tempuh sekira setengah jam. Untuk naik Norry dari O Dambong ke O Sra Lav, kita hanya membayar USD 8 atau sekira Rp108 ribu.

Saat kita menaiki kendaraan ini, sebaiknya siapkan kamera untuk memotret keindahan alam setempat, karena kereta ini langsung terhubung dengan alam. Selain itu, kita  juga dapat membeli cinderamata saat melakukan perjalanan kereta bambu ini, karena di sepanjang jalan, ada toko yang menyediakan jajanan dan cindera mata untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Battambang.

 

Penulis : Novita Puspa,

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment