Figur 

Optimis Membawa Bank Mandiri Go International

Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Sebagai salah satu bank pelat merah terbesar di Indonesia, Bank Mandiri harus selalu melakukan terobosan untuk memperkuat seluruh lini bisnisnya. Apalagi persaingan dalam memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik bagi nasabah semakin ketat dari hari ke hari, tidak hanya dengan sesama bank BUMN tetapi juga dengan bank-bank swasta.

Pada awal tahun ini, tepatnya pada 21 Maret 2016, Bank Mandiri telah menunjuk “nakhoda” barunya, Kartika Wirjoatmodjo. Kartika ditetapkan sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), menggantikan Budi Gunadi Sadikin yang telah berakhir masa jabatannya.

Kartika Wirjoatmodjo merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), jurusan Ekonomi Akuntansi, pada tahun 1996. Dari sana, Kartika memulai kariernya sebagai Konsultan Akuntansi dan Pajak di RSM AAJ Associates sejak 1995 hingga 1996. Selanjutnya, ia bekerja sebagai Analis Kredit di Mizuho Corporate Bank (1996-1998), Konsultan Senior di PwC Financial Advisory Services (1998-1999) dan Boston Consulting Group (2000-2003).

Di tengah kesibukannya menjalani karir, Kartika juga berhasil menyelesaikan pendidikan S2-nya di Rotterdam School of Management, Belanda, dan memperoleh gelar Master Of Business Administration (MBA). Kemudian, Kartika memutuskan bergabung dengan Bank Mandiri pada 2003 dengan jabatan sebagai SVP, Group Head of Strategy. Pada 2008, karirnya semakin menanjak, dan ia pun dipilih menjadi Managing Director Mandiri Sekuritas, dan tugas khusus yang diembannya adalah merestrukturisasi keuangan dan re-focusing bisnis di perusahaan tersebut pasca krisis ekonomi tahun 2008.

Pada 2011, dia lalu ditugaskan oleh Menteri Keuangan untuk mendirikan sebuah lembaga baru yang dibentuk untuk mempromosikan investasi infrastruktur di Indonesia. Kartika pun akhirnya menjabat sebagai CEO di Indonesia Infrastructure Finance (2011-2013), dan setelahnya ditunjuk menjadi Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di awal 2014.

Setelah itu, pria kelahiran Surabaya 18 Juli 1973 tersebut kembali lagi ke Bank Mandiri pada 2015, setelah didapuk menjadi Chief Financial & Strategy. Setelah sekira setahun menjabat, ia pun dipercaya memegang tampuk pimpinan tertinggi Bank Mandiri. Seperti yang dikatakan Menteri BUMN, Rini S. Soemarno, bahwa terpilihnya Kartika dikarenakan visinya yang jelas terhadap masa depan Bank Mandiri, serta pengetahuannya yang sangat mumpuni mengenai perbankan, apalagi ia juga pernah menjabat sebagai Ketua LPS sebelumnya.

“Jadi ke depannya adalah tidak hanya meningkatkan efisiensi Bank Mandiri sendiri, tapi juga mengembangkannya menjadi pemain global. Kita harus bisa mempunyai aktivitas di luar (negeri),” jelas Rini.

Kartika, yang akrab disapa Tiko, merasa jabatan sebagai Dirut Bank Mandiri adalah suatu amanah yang sangat besar. “Masih banyak yang harus dilakukan untuk membawa Bank Mandiri semakin maju. Terima kasih dan mohon dukungan kepada seluruh pemegang saham dan stakeholder agar perjalanan Bank Mandiri dapat lebih baik di masa depan,” ujar Kartika beberapa saat setelah ia terpilih sebagai Dirut Bank Mandiri.

Sejalan dengan apa yang diharapkan Menteri BUMN bahwa Bank Mandiri harus berhasil go international, Tiko memang berniat membawa bank tersebut menembus pasar global. Saat ini, ia sedang berupaya mendapatkan lisensi dari Bank Sentral Malaysia dan Singapura untuk menambah cabang baru di dua negara jiran tersebut. “Itu dua strategi yang bisa kami jalankan secara paralel,” ungkap direktur bank BUMN termuda tersebut.

Baru genap dua bulan menjabat sebagai Dirut Bank Mandiri, Kartika juga harus menghadapi persoalan perlambatan ekonomi nasional yang dampaknya ikut menghampiri sektor perbankan. Hal ini terlihat pada kinerja keuangan perseroan di Triwulan I-2016, yakni rasio non performing loan (NPL) atau kredit macetnya meningkat. Pada Kuartal I tahun lalu, rasio NPL sebesar 1,81%, sedangkan di periode yang sama tahun ini, naik sebesar 1,08% menjadi 2,89%.

Kartika menerangkan bahwa kenaikan NPL utamanya disumbang oleh kredit-kredit usaha komersial para debitur Bank Mandiri yang kegiatan bisnisnya terkena imbas dari perlambatan ekonomi nasional. “Penyumbang NPL itu disumbang besar oleh segmen menengah. Mereka yang ada di segmen menengah itu kan sangat bergantung pada satu revenue sources (sumber pendapatan). Sehingga kalau itu bermasalah, maka berpengaruh pula kepada kemampuan dia membayar kreditnya,” ungkapnya.

Tapi, Kartika meyakini bahwa sampai akhir 2016 ini, perseroan masih akan bisa konsolidasi, apalagi sektor usaha para debitur sedikit melebar, mulai dari rokok, baja, hingga kertas. “Harapannya (dari konsolidasi), pada 2017 pertumbuhan aset kita bisa lebih sehat,” katanya optimis.

Walaupun masih ada permasalah dari sektor kredit, sebaliknya di sektor simpanan, Bank Mandiri masih dapat bernapas lega, sebab memasuki Kuartal II-2016, persaingan dalam perebutan dana deposito oleh bank-bank terasa mulai berkurang. Penyebabnya terutama karena Bank Indonesia (BI) melakukan pelonggaran moneter melalui kebijakan penurunan suku bunga acuan dan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer beberapa waktu lalu.

“Jadinya, secara otomatis bank pelan-pelan bisa menurunkan bunga dananya. Di samping juga ada intervensi capping dari deposito yang dimiliki pemerintah. Likuiditas juga sudah membaik, karena LDR kan juga turun. (Rasio) LDR sekarang sudah di 87%, nanti kalau terus terjadi pelonggaran moneter, persaingan suku bunga dana akan lebih soft,” tutur pria berkacamata ini tersenyum.

Dengan segala kondisi yang sudah dan akan terjadi di dunia perbankan Indonesia, Kartika pastinya akan selalu merasa optimis dalam menjaga Bank Mandiri agar tetap menjadi salah satu bank terdepan dan terpercaya di Indonesia, bahkan nantinya di regional Asia.

Penulis  : Ria E. Pratiwi

Editor    : Muhammad Pamungkas

Dimuat  : Majalah Channel Edisi 65-2016

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment