Perkembangan Sistem Digitalisasi pada Anjungan Kapal

Pada saat ini, proses mengemudikan atau menavigasi kapal pada restricted waters sudah menjadi pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus dan dibantu oleh peralatan modern yang berteknologi tinggi. Gadgets, peralatan instrumen dan software selalu berevolusi seiring dengan perkembangan terbaru dari peralatan dan teknologi navigasi.

Sudah lewat hari-hari di mana seorang nakhoda harus menyandarkan kapalnya ketika misalnya sedang terjadi kabut yang membuat penglihatan menjadi sangat minim. Juga sudah lewat masa ketika nakhoda harus mengambil posisi berdasarkan referensi dari luar melalui berbagai channel navigasi dan garis yang sudah ditetapkan menggunakan sebuah indikator bantalan.

Saat ini, Global Positioning System (GPS) sudah mengambil alih dan sangat diperlukan untuk navigasi di darat, laut dan udara. Lebih lanjut, sudah terdapat sistem kontrol yang lebih canggih, yang menawarkan akurasi dan integritas lebih tinggi kepada GPS, selalu dalam proses dikembangkan untuk menyokong sistem navigasi yang sudah ada sekarang. Setiap kapal sekarang menggunakan beberapa alat navigasi untuk keamanan terbaik.

Sebelumnya, para navigator sangat bergantung dengan peta laut (nautical charts). Peta laut tersebut memberikan pandangan dua dimensi terhadap laut dan topografinya untuk membantu navigasi yang aman. Peta laut juga mengindikasikan bahaya navigasi, peningkatan tiba-tiba di dasar laut, bangkai kapal yang menghalangi channel navigasi di air terbatas, struktur yang dibuat oleh masyarakat lokal, posisi jembatan, pelabuhan, struktur pantai, menara, tugu, dan referensi di pantai lainnya. Peta laut tidak setiap saat di-update, maka hal ini membuat navigasi menjadi rentan terhadap perubahan tiba-tiba di dasar laut.

Peta laut berbentuk fisik tentu saja akan memakan tempat di dalam kapal, sehingga untuk menghindari ini telah dikembangkan Electronic Nautical Charts (ENC) yang memindahkan medianya dari kertas ke digital. Ada dua jenis ENC yakni Raster Chart dan Vector Chart. Raster Chart lebih berupa hasil scan dari peta navigasi kertas, dan jenis yang kedua lebih berorientasi data. Walaupun datanya tersembunyi, tapi data untuk suatu posisi tertentu akan langsung ditampilkan ketika kita meng-klik mouse atau memencet sebuah tombol. Penyampaian data itu bisa terwujud karena ENC sudah dilengkapi dengan software navigasi, seperti Electronic Chart Display Information System (ECDIS).

Beberapa software untuk menentukan peta navigasi sudah tersedia di pasaran sehingga akan memudahkan navigasi. Salah satunya adalah SEA CLARE, yang bisa diinstal di komputer yang memakai sistem operasi Windows 2000 ke atas. Ketika dikoneksikan dengan GPS, maka ini akan menunjukkan posisi terkini, kecepatan dan arah dari kapal secara real time. Bagan terbaru dapat langsung diumpan secara otomatis dalam file berbentuk teks dan rekam jejaknya dapat disimpan jika ingin dilihat lagi. Jika ada data baru, dapat di-update dan dimasukkan secara manual ke software itu. Tapi untuk memakai software ini, kapabilitas transmisi GPS-nya harus yang sudah lebih modern, biasanya disebut NMEA 0183 (merupakan spesifikasi atau protokol yang dikembangkan oleh The National Marine Electronic Association, Maryland, AS).

Versi lebih sederhana dari SEA CLARE adalah PC PLOTTER, yang biasa digunakan oleh kapal lebih kecil untuk yachting, memancing, dan sesuai dengan Dual Channel Parallel AIS Receiver yang berbiaya rendah, dan ini bisa menerima sinyal dari kapal besar dan kecil. AIS adalah sistem pelacakan kapal yang berguna menentukan lokasi kapal lain di sekitarnya dengan saling bertukar data secara otomatis dengan kapal terdekat dan stasiun AIS. Vessel Traffic Management Systems (VTMS) lokal atau Vessel Traffic Service (VTS) seringkali sudah ditawarkan oleh pelabuhan yang arusnya sibuk, tapi di sini AIS berperan sebagai instrumen tambahan.

Instrumen lain yang mengurangi beban pekerjaan petugas yang berjaga adalah marine radar yang sudah dilengkapi dengan ARPA. Radar seperti yang kita tahu adalah alat pendeteksi radio atau sejenisnya yang mampu merefleksikan gelombang elektromagnetik. Misalnya saja kapal, pesawat terbang, sepeda motor, dan sebagainya, pasti merefleksikan gelombang radio dan akhirnya tampil di layar. ARPA dapat mengkalkulasi kecepatan, haluan dan perkiraan poin terdekat, dari kapal lain yang sudah direkam jejaknya. ARPA yang sudah modern dan terintegrasi memberikan hasil akhir terbaik untuk kapten dan staf-nya.

Sebuah perusahaan Norwegia, Maris, mempunyai sistem chart yang lain berdasarkan ECDIS bernama Pilot Mate. Software ini mampu terhubung dengan alat navigasi lain dengan cepat. Software ini menerima update melalui email dan juga mengenai informasi pasang surut air laut; dia menampilkan warna yang nyata untuk mengarahkan pelampung ENC, meng-update manajemen riwayatnya, dan sebagainya. Perencanaan dan monitoring rute juga tambahan keuntungan pada software tersebut.

Jadi, kita melihat peta atau bagan navigasi dengan pembagi, set-squares, sextant dan alat-alat lain yang lebih memberikan nuansa digitalisasi pada anjungan kapal, jadi dapat mengeliminasi kemungkinan terjadinya human error. Sebuah sistem digital yang terintegrasi pada anjungan kapal sebenarnya dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kandas atau tersesat di laut.

 

Penulis : Ria E. Pratiwi

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Lintas Nusa Edisi 23 – 2016

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment