Sajian Wisata Kelas Dunia di Pulau Sumbawa

Eksotisme Pulau Sumbawa tidak kalah jika dibandingkan Pulau Lombok dan Bali. Hanya saja pamornya masih kalah jika dibandingkan kedua pulau tersebut. Padahal banyak sekali pilihan objek wisata indah yang ada di sana. Pulau Sumbawa terpisahkan oleh Selat Alas dengan Pulau Lombok, sedangkan bagian timur pulau ini dipisahkan oleh Selat Sape dari Pulau Komodo di provinsi Nusa Tenggara Timur. Samudera Hindia menjadi batas bagian selatan dan sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores.

Salah satu cara untuk menuju Pulau Sumbawa dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), adalah dengan memanfaatkan jasa penyeberangan kapal feri yang disediakan di Pelabuhan Kayangan, Kabupaten Lombok Timur. Butuh waktu sekitar dua jam untuk mengarungi Selat Alas, selat yang memisahkan Lombok dan Sumbawa.

Jalur ini kerap dipakai wisatawan yang hendak ke Pulau Sumbawa setelah sebelumnya naik pesawat dan mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Mengingat jarak dari BIL ke Pelabuhan Kayangan melalui jalur darat memakan waktu cukup lama, dengan jarak tempuh perjalanan di atas 70 kilometer, maka operasional feri yang berlangsung selama 24 jam, dengan jadwal keberangkatan setiap 1 jam sekali, membuat wisatawan dapat fleksibel menentukan waktu menyeberang.

Untuk harga tiket ferinya yaitu sebagai berikut: penumpang pejalan kaki atau bersepeda (Rp26.500); sepeda motor di bawah 500 cc (Rp51.500) untuk spesifikasi di bawah 500 cc; sepeda motor di atas 500 cc dan sepeda motor beroda tiga (Rp86.500) dan sepeda motor beroda tiga; mobil pribadi (mulai dari Rp414.000 hingga Rp445.000, dihitung berdasarkan ukuran kendaraan); serta bus dan truk (mulai dari Rp682.000 hingga Rp2.004.500).

Begitu sampai di Pelabuhan Poto Tano yang berada di Desa Poto Tano, Sumbawa Barat, NTB, Anda akan disambut tulisan besar “Sabalong Samalewa”, yang berarti “membangun secara serasi dan seimbang antara pembangunan fisik dan mental spritual”. Dari pelabuhan ini Anda akan disuguhi pemandangan gugusan pulau-pulau kecil berpasir putih.

Selain posisinya yang penting, Pelabuhan Poto Tano ini sering disebut sebagai pelabuhan paling cantik di Indonesia. Pasalnya, alam di sekitar pelabuhan itu sangat indah dengan gugusan bukit dan perairan hijau kebiruan. Saat musim kemarau, bukit-bukit ini akan diselimuti rumput yang berwarna kekuningan seperti bulu jagung kering. Sedangkan saat musim penghujan, bukit tersebut sangat hijau hingga sepadan dengan warna perairan yang ada di tepian.

 

Pulau & Pantai

Lokasi wisata terdekat dari Pelabuhan Poto Tano yakni Pulau Paserang. Pulau Paserang adalah satu dari gugusan pulau kecil yang berada di seberang pelabuhan Poto Tano yang diberi nama Gili Balu. Gugusan pulau ini berderet dengan jumlah delapan pulau. Untuk menuju ke Pulau Paserang butuh waktu sekitar 15 menit menyeberang menggunakan speedboat.

Kemudian, ada objek wisata yang bernama Tanjung Munangis, yang berada di bagian timur pulau Sumawa. Penamaannya yang unik tidak lepas dari kisah legenda penguasa Sumbawa bernama Sultan Samawa. Saat ini, Tanjung Munangis terkenal sebagai spot uji adrenalin untuk melakukan cliff jumping atau cliff climbing.

Di sisi utara Sumbawa Besar yang cukup terpencil, terdapat juga pulau lain yang menjadi salah satu dari sedikit destinasi wisata Indonesia yang pernah menjadi tempat berlibur tokoh dunia, salah satunya adalah mendiang Putri Diana. Pun demikian pulau kecil ini memiliki segudang tempat keren berupa pantai hingga air terjun. Di dalam pulau Moyo juga telah berdiri resor mewah dengan tarif selangit. Meski tidak setenar Pulau Bali maupun Tiga Gili di Lombok, tapi Pulau Moyo termasuk dalam sederet tujuan wisata mewah di negeri ini.

Bagi Anda yang suka surfing bisa mendatangi Pantai Maluk yang terletak di Desa Maluk, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Pantai ini memiliki ombak besar yang disukai para peselancar, selain terkenal dengan keindahan alam serta damainya pemandangan Teluk Maluk. Ombak di Pantai Maluk memiliki ketinggian rata-rata di atas 2 meter yang sangat menggoda peselancar untuk segera menceburkan diri ke laut. Jadi jangan kaget jika datang ke pantai ini kemudian pengunjung yang dijumpai kebanyakan turis ketimbang wisatawan domestik.

Lalu, ada juga Pulau Kenawa yang dalam beberapa tahun terakhir namanya mulai mencuat sebagai salah satu tujuan wisata eksklusif di Sumbawa. Pulau ini memiliki suasana sepi, sehingga siapa saja yang berkunjung ke sana akan berasa sedang berlibur di pulau pribadi. Pulau Kenawa memiliki pantai berpasir putih, serta diselimuti oleh padang savana bagaikan permadani hijau di seluruh pulaunya. Untuk menjangkau pulau ini, Anda yang berangkat dari Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur bisa berlabuh di pelabuhan Poto Tano, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan selama 1,5 jam menggunakan kapal feri menuju ke Pulau Kenawa.

 

Gunung

Gunung Tambora yang terletak di Kabupaten Bima tidak boleh dilewatkan dalam kegiatan wisata Anda ke Pulau Sumbawa. Gunung yang terkenal karena letusannya yang maha dahsyat di era kehidupan modern manusia ini ternyata menyimpan banyak keindahan alam yang perlu diungkapkan. Memang, Gunung Tambora pernah mengalami letusan besar di tahun 1815, bahkan letusan tersebut jauh lebih besar ketimbang letusan Gunung Krakatau.

Menurut sejarah, akibat dari letusan itu, ada puluhan ribu nyawa yang menjadi korban, dan wilayah Eropa sampai tertutup debu vulkanik serta mengalami perubahan iklim. Kini wisatawan bisa menyaksikan sisa-sisa kedahsyatan letusan Tambora dengan mendaki ke puncaknya. Dari sana terlihat kawah menganga berdiameter tujuh kilometer dan berkedalaman 800 meter.

 

Tambak Garam

Selain di daerah Pamekasan Madura, di Bima NTB juga terkenal sebagai penghasil garam berkualitas di Indonesia. Jika kamu main-main ke Bima akan terlihat ribuan hektar ladang garam yang bersebelahan dengan tambak-tambak ikan bandeng. Tambak garam tersebut memanjang di pesisir teluk Bima. Untuk melihat indahnya pemandangan dari ladang garam di Bima, wisatawan bisa meluncur ke dua kecamatan penghasil garam yaitu Bolo dan Woha. Di dua kecamatan tersebut terdapat 1.200 hektar ladang garam yang dimiliki oleh puluhan penduduk dan perusahaan. Pemandangan ladang garam inilah yang sangat keren jika diabadikan menggunakan kamera. Sebab, pantulan gambar yang dihasilkan terlihat sangat sempurna.

 

Penulis : Ria E. Pratiwi

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Lintas Nusa Edisi 28 – 2016

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment