Sidik Jari Ungkapkan Karakter Mengemudi

Seorang manusia memiliki karakter masing-masing yang membentuk kepribadiannya. Nah, bagaimana dengan karakter seseorang sangat mengemudi? Safety Institute Indonesia menemukan cara pengujian karakter pengemudi melalui pemeriksaan sidik jari si pengemudi tersebut.

Faktanya, karakter berkendara ditentukan dari cara kerja otak manusia. Hal ini berarti setiap individu memiliki pola pikiran atau proses kerja otak berbeda terhadap beragam input yang diterima oleh panca indera manusia. Pola pikir inilah yang membuat karakter pengemudi berbeda saat berkendara. Cara kerja otak itu dapat terdeteksi via sidik jari atau dapat dikatakan sidik jari merupakan blueprint dari otak manusia.

Pembacaan karakter via sidik jari ini pertama kali diperkenalkan oleh Brain Based Driving, sebuah program menarik yang dimiliki Safety Institute Indonesia, Otomotif Group – Kompas Gramedia. Ilmu Brain Based Driving berbeda dengan Safety Driving pada umumnya, Brain Base Driving lebih mengutamakan proses kerja otak yang dihubungkan dengan teknik berkendara yang benar. Jadi setiap pengemudi akan memiliki kebutuhan yang berbeda dalam menerima materi tentang cara mengemudi yang benar.

 

Bagian Otak Pengemudi

Terdapat 3 bagian utama dalam otak manusia dalam memproses input dari panca indera. Bagian otak pertama adalah reptilian brain atau sering disebut dengan batang otak. Lalu bagian otak tengah atau disebut dengan limbic brain. Terakhir adalah lapisan otak paling atas dan berdimensi paling besar, yakni neocortex brain.

Pada pengujian dengan metode Brain Based Driving, kita akan mengetahui karakter pengemudi. Nilai yang ingin diberikan dengan adanya Brain Based Driving ini agar pengemudi sadar akan potensi yang dimilikinya sehingga ia dapat bersikap lebih arif saat berkendara di jalan raya.

 

Metode Brain Based Driving

Pengujian tersebut dilakukan pertama kali di Indonesia oleh Safety Institute Indonesia yang bekerja sama dengan Talents Spectrum. Pengujian ini menyajikan beberapa program khusus bertajuk Brain Based Driving, Driving Style. Program ini dirancang sebagai metode untuk mengenali karakter pengemudi.

Hasil dari program ini ialah akan menampilkan interpretasi sistem respon kerja otak seseorang dalam kaitannya dengan perilaku mengemudinya. Sebab, terdapat korelasi antara sistem kerja otak dengan pembentukan pola sidik jari seseorang.

Metode yang digunakan dalam pengukuran potensi ini adalah psychobiometric dengan data fingerprint. Dalam pengujiannya, Safety Institute Indonesia menggunakan software khusus yang dikembangkan untuk mengenali karakter diri dari sidik jari. Langkah pertama untuk mengenali karakter pengemudi adalah dengan membubuhkan sidik jadi pada alat scanner fingerprint.

Alat tersebut akan membaca sidik jari dan kemudian dimasukkan dalam software Psychobiometric milik Talents Spectrum. Ada empat jari yang digunakan untuk mengidentifikasi dalam proses scanning  yaitu, jempol kanan, telunjuk kanan, jempol kiri, dan telunjuk kiri.

Setelah menggunakan pengujian dengan proses scanning, selanjutnya software akan bekerja dengan mengenali garis-garis di sidik jari yang merupakan printout dari genetika setiap manusia. Proses pengolahan datapun tidak lama, hanya beberapa menit, dan komputer akan menyajikan data dalam bentuk printout.

 

Lima Karakter Pengemudi

Dari pengujian tersebut, Safety Institute Indonesia menemukan setidaknya ada lima karakter pengemudi, yakni  Mood Based Driver, Competitive Driver, Analitical Driver, Reflective Drive, dan Progressive Driver.

Mood Based Driver ialah gaya mengemudi yang berorientasi pada kenyamanan saat mengemudi. Biasanya kenyamanan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti orang lain, dan lingkungan. Si pengemudi yang memiliki karakter Mood Based Driver menjadikan perasaan sebagai acuan dan cenderung enggan mengambil sebuah resiko dalam sebuah situasi. Namun karena berbasis perasaan, ia juga mudah lengah atau terpengaruh oleh situasi sekitar.

Competitive Driver ialah gaya mengemudi yang berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai, perhitungan waktu tempuh, dan jarak karena keinginan efektivitas. Dorongan ego biasanya lebih mendominasi tipe pengemudi seperti ini. Biasanya kadang disertai emosi yang mudah terpancing.

Analitical Driver merupakan gaya mengemudi perfeksionis, memperhatikan segala aspek dalam mengemudi, bermaksud memberikan pengalaman berkendara yang terbaik namun sering terjebak dalam situasi keragu-raguan dalam mengambil sebuah keputusan. Responnya dapat menjadi lambat karena memikirkan banyak hal sekaligus.

Reflective Driver merupakan pengemudi yang berbekal nilai yang tertanam pada dirinya, tipe pengendara ini bergerak dengan insting atau refleks yang didasari oleh prinsip kuat dalam mengambil keputusan. Sangat patuh terhadap aturan yang ada tetapi kurang peka terhadap situasi yang ada di sekitar.

Sedangkan, Progressive Driver ialah seorang pengemudi dengan dorongan ‘penasaran tinggi’ untuk mencoba pengalaman berkendara yang baru. Tekanan bahaya dapat ia artikan sebuah sensasi baru yang bisa saja menjadi hal yang menarik bahkan menyenangkan.

Lima karakter berkendara tersebut bukanlah sebuah penilaian, namun hanyal pembacaan karakter seseorang saja. Walaupun demikian, pengujian yang dilakukan oleh Safety Institute Indonesia ini sangat bermanfaat agar seorang pengendara mengetahui bagaimana karakter ia dalam mengemudikan kendaraan sehingga dapat bersikap lebih arif saat berkendara di jalan raya.

 

Penulis : Novita Puspa

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment