Solar ULSD dan Pengurangan Kadar Sulfur

Di era peradaban saat ini yang dipenuhi polusi di berbagai tempat, maka penggunaan bahan bakar ramah lingkungan harus ditingkatkan. Termasuk  ramah lingkungan disini adalah bahan bakar berkandungan sulfur rendah. Ternyata negara-negara maju tengah “berlomba-lomba” menurunkan kandungan sulfur ini.

ULSD (Ultra-low-sulfur diesel/ Solar berkandungan Sulfur sangat rendah) adalah bahan bakar diesel (solar) dengan kandungan sulfur sangat rendah. Pada 2006, hampir semua bahan bakar solar yang tersedia di Inggris, Eropa dan Amerika Utara adalah dari jenis ULSD ini. Tidak ada satu pun spesifikasi standar bahan bakar dari standar diamanatkan pemerintah di sana yang lebih ketat dari aturan ULSD ini.

 

Sulfur = Musuh Mesin

Sebagai perbandingan, untuk solar yang terdapat di Indonesia dari data Pertamina; kadar sulfur pada solar biasa adalah 3.500 ppm (part per million). Untuk bio solar nilai kandungan sulfurnya 500 ppm sedangkan solar DEX 250 ppm. Sementara di beberapa negara maju, kandungan sulfur pada solarnya mencapai 50 ppm ke bawah.

Sulfur sebenarnya adalah “musuh” utama dari mesin diesel, mengapa? Karena semakin tinggi kandungan sulfur di dalam solar akan memancing kadar asam berlebih. Situasi ini berakibat kerusakan pada komponen mesin, mulai dari kerak, hingga saluran bahan bakar.

Munculnya kerak di saluran bahan bakar dapat mengganggu suplai solar yang dialirkan ke dalam silinder, efek langsungnya mengganggu kinerja mesin, mulai dari penurunan tenaga sampai kerusakan lebih serius. Disinilah istilah pembakaran dini atau knocking terjadi yang bisa mengakibatkan mesin mengelitik.

Efek karena tingkat sulfur yang tinggi pada solar tidak berhenti pada kerusakan kendaraan saja. Dalam hal polusi udara, gas sisa pembakaran dari mesin bila bercampur udara akan membentuk sulfur dioksida (SO2). Ketika SO2 tercampur dengan uap air akan terjadi susunan asam yang membahayakan bagi tubuh.

Apabila melihat sangat kecilnya kandungan sulfur pada bahan bakar solar di beberapa negara maju mengisyaratkan bahwa seputar pengurangan sulfur pada solar ( juga bahan bakar lainnya) negeri ini harus banyak belajar. Di negara maju, peralihan penggunaan dari bahan bakar solar biasa ke ke solar dengan sulfur sangat rendah berjalan cepat. Tujuannya agar dapat menerapkan aturan pengontrolan emisi yang baru, yang menghendaki digunakannya mesin diesel dengan emisi yang sangat rendah. Perubahan ini awalnya terjadi di Uni Eropa dan sekarang melanda di Amerika Utara.  Standar emisi baru, yang menuntut pemakaian bahan bakar yang lebih bersih, telah mempengaruhi mobil di Amerika Serikat sejak tahun 2007 .

 

Afrika dan Eropa

Beberapa negara yang sudah menerapkan ULSD dengan kandungan sulfur begitu kecilnya, diantaranya :

  1. Kenya

Beberapa stasiun pengisian di Kenya mulai menawarkan solar dengan kandungan sulfur hanya 50 ppm/part per million atau 0,005 % pada Desember 2010.

  1. Mauritius

Pada Juni 2012, solar 50 ppm sekarang menjadi solar yang standar di semua SPBU di Mauritius dalam upaya untuk mengurangi polusi.

  1. Afrika Selatan

Pemakaian solar 50 ppm pertama kali disahkan oleh Departemen Mineral dan Energi Afrika Selatan pada awal 2006 dan telah banyak tersedia sejak saat itu. Berikutnya hadir bahan bakar bersih standar 2 Afrika Selatan, pada tahun 2017, dengan pengurangan kandungan sulfur yang diijinkan hingga 10 ppm (0,001%). Bahkan perusahaan Sasol telah meluncurkan solar 10ppm di SPBU tertentu pada 2013.

  1. Maroko

Maroko telah mulai memperkenalkan solar 50 ppm untuk stasiun pengisian pada tahun 2009.

Sejak 2011, sudah tersedia solar 10 ppm di beberapa stasiun pengisian . Penerapan solar 10 ppm untuk semua SPBU diharapkan berjalan pada Desember 2015.

  1. Uni Eropa

Di Uni Eropa, bahan bakar standar ” Euro IV ” telah diterapkan sejak tahun 2005, dengan ketentuan maksimum sulfur 50 ppm dalam bahan bakar solar untuk kendaraan berat. ULSD dengan maksimum sulfur 10 ppm sebenarnya sudah harus ” tersedia ” tahun 2005 lalu namun baru berjalan pada 2008.

Target akhir ( telah dikonfirmasi oleh Komisi Eropa ) untuk penggunaan umum solar dengan sulfur 10 ppm adalah tahun 2009, yang dianggap awal berlakunya bahan bakar standar Euro V .Pada tahun 2009, mayoritas kendaraan telah menggunakan bahan bakar Euro V untuk bahan bakar, kecuali untuk negara Eropa Timur yang membutuhkan masa transisi untuk penggunaan bahan bakar ini.

Beberapa negara Uni Eropa lain malah telah menetapkan standar yang lebih tinggi. Transisi berjalan sangat cepat. Sebagai contoh, Jerman menerapkan insentif  (penghapusan) pajak per liter “sulfur bebas” bahan bakar baik pada bensin maupun diesel, yang mengandung kurang dari 10 ppm dimulai pada Januari 2003 dan rata-rata kandungan sulfur menurun pada tahun 2006 hingga 3-5 ppm (0,0003 %- 0,0005%) . Langkah-langkah serupa telah diberlakukan di sebagian besar negara-negara Nordik , Benelux, Irlandia dan Inggris untuk mendorong  penerapan standar bahan bakar 50 ppm dan 10 ppm.

  1. Swedia

Sejak tahun 1990 , bahan bakar solar dengan kandungan sulfur dari 50 ppm telah tersedia di pasar Swedia . Dari tahun 1992 , produksi mulai dari bahan bakar solar dengan 2 sampai 5 ppm sulfur dan maksimal 5% aromatik volume. Ada insentif pajak tertentu bagi penggunaan bahan bakar ini sejak tahun 2000. Bahan bakar sulfur rendah ini telah mencapai penetrasi 98-99 % dari pasar bahan bakar solar Swedia. Hebatnya lagi sejak tahun 2003 , bahan bakar solar “nol sulfur” dengan konten aromatik yang sangat rendah ( kurang dari 1 % volume ) telah tersedia di pasar Swedia dengan nama EcoPar.

 

Penulis : M. Nurfitrianto

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Transmedia Tahun 2015

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment