Taman Nasional Baluran Africa Van Java

Jika Anda membayangkan padang savana yang sangat luas, dan ada banyak binatang yang secara bebas berkeliaran di sekitar, pastinya yang terbayang pertama kali adalah suasana di Afrika. Tapi jangan salah, pemandangan seperti itu tidak hanya ada di Afrika saja. Di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di perbatasan Situbondo dan Banyuwangi, berdiri Taman Nasional (TN) Baluran. Bahkan banyak juga yang menjuluki lokasi wisata tersebut sebagai Africa Van Java.

Kawasan TN Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi TN Baluran, karena pintu gerbang utamanya terletak di jalan Situbondo-Banyuwangi yang merupakan akses utama para pengendara dari Jakarta atau Jawa Timur menuju Bali. Bagi Anda yang berkendara dari Surabaya menuju Pelabuhan Ketapang melalui jalur pantura, tentu akan melewati taman nasional ini. Sebaliknya, kalau Anda dari Pelabuhan Gilimanuk Bali ingin menuju ke sana, dapat menyeberangi Selat Bali dengan menaiki kapal feri menuju Pelabuhan Ketapang, dan dilanjutkan dengan mobil ke TN Baluran.

Harga tiket feri dari Pelabuhan Gilimanuk ke Ketapang antara lain sebagai berikut: penumpang dewasa (Rp6 ribu), penumpang anak-anak (Rp4 ribu), kendaraan golongan I (Rp7 ribu), kendaraan golongan II (Rp22 ribu), kendaraan golongan III (Rp 34 ribu), kendaraan golongan IV A (Rp138 ribu), dan kendaraan golongan IV B (Rp124 ribu).

Sejarah berdirinya TN Baluran dimulai pada 1930, ketika KW. Dammerman yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor mengusulkan perlunya Baluran ditunjuk sebagai hutan lindung. Kemudian, pada 1937, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan Baluran sebagai Suaka Margasatwa dengan ketetapan GB. No. 9 tertanggal 25 September 1937 Stbl. 1937 No. 544. Selanjutnya ditetapkan kembali oleh Menteri Pertanian dan Agraria RI dengan Surat Keputusan No. SK/II/1962 tertanggal 11 Mei 1962. Dan, pada 6 Maret 1980 yang bertepatan dengan hari Strategi Pelestarian se-Dunia, Suaka Margasatwa Baluran diresmikan oleh Menteri Pertanian sebagai Taman Nasional.

Luas TN Baluran adalah 25 ribu hektar, dan berdasarkan SK. Dirjen PKA No. 187/Kpts./DJ-V/1999 ter tanggal 13 Desember 1999, luas kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa zona sesuai dengan peruntukkannya, yang terdiri atas zona inti seluas 12 ribu hektar, zona rimba seluas 5.537 hektar (perairan = 1.063 hektar dan daratan = 4.574 hektar), zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 hektar, zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 hektar, dan zona rehabilitasi seluas 783 hektar. Sistem zonasi tersebut dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Sedangkan dari segi pengelolaan kawasan TN Baluran dibagi menjadi dua Seksi Pengelolaan Taman Nasional, yaitu: Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Bekol, meliputi Resort Bama, Balanan dan Perengan; serta Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karangtekok meliputi Resort Watu Numpuk, Labuhan Merak dan Bitakol.

TN Baluran memiliki berbagai kombinasi bentang alam, mulai dari ekosistem laut hingga pegunungan, savana, serta keanekaragaman jenis satwa dan tumbuhan. Beberapa obyek di TN Baluran yang sering dikunjungi wisatawan antara lain: Gua Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Pantai Bama, Savana Semiang, Savana Bekol, Evergreen Forest Bekol, Manting, Dermaga, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Talpat, Kacip, Bilik, Sejile, Teluk Air Tawar, Batu Numpuk, Pandean, dan Candi Bang.

Ada banyak hal menarik yang bisa lakukan di kawasan TN Baluran, misalnya menyelami kesejukan dan keindahan Evergreen Forest Bekol, mengamati banyak hewan liar (seperti rusa, babi hutan, banteng, dan lain-lain) yang berkeliaran bebas di Savana Samiang atau Savana Bekol, dan menyaksikan keindahan terumbu karang dan birunya air di laut sekitar Pantai Bama.

Pantai Bama yang memiliki hamparan pasir putih ini terletak ± 3 km dari Savana Bekol, dan dikelilingi oleh hutan mangrove sebagai habitat berbagai jenis burung dan satwa  primata. Di tempat tersebut, Anda dapat menikmati indahnya sunrise dan atraksi kera abu-abu (Macaca Fascicularis) yang sedang memancing menggunakan ekornya di pantai pada pagi hari. Selain kera abu-abu, di sekitar Pantai Bama, Anda dapat menemukan lutung, biawak, dan aneka jenis burung. Selain panorama darat, Pantai Bama menyimpan keindahan panorama bawah air yang menawan. Aneka terumbu karang dan ikan hias dapat ditemui di sini.

Selain Pantai Bama, di utara TN Baluran juga terdapat Pantai Bilik dan Sejile. Selain tenang dan bersih dari polusi, pantai ini akan tampak khas pada saat air laut surut, karena akan tampak daratan berpasir putih yang berbentuk menyerupai lidah, sehingga dinamakan Sejile (bahasa Madura yang berarti lidah). Pemandangan bawah air di sana pun sangat menakjubkan. Di sekeliling pantai terdapat juga panorama hutan mangrove yang menarik untuk dijelajahi. Pantai Bilik dan Sejile dapat dicapai melalui jalan darat (pintu masuk SPTN W II Karangtekok) maupun jalan laut dengan menggunakan perahu.

Sementara, Savana Bekol memiliki luas kawasan ± 300 hektar yang meliputi hamparan savana alami terluas di Pulau Jawa, dengan latar belakang Gunung Baluran menjadikan pengunjung serasa berada di Afrika. Savana Bekol berjarak ± 12 km dari pintu masuk Baluran, dan Anda dapat menjangkaunya dengan sepeda motor maupun mobil. Sepanjang jalan menuju Bekol, pengunjung dapat menjumpai burung merak, ayam hutan, dan berbagai jenis burung.

Apabila Anda ingin melihat panorama Savana Bekol secara keseluruhan, maka dapat naik ke menara pandang yang tingginya 30 meter. Dengan bantuan teropong, selain dapat melihat Savana Bekol, Anda juga dapat menyaksikan indahnya Pantai Bama, Gunung Baluran, dan Selat Bali. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat atraksi satwa setiap harinya terutama pada pagi dan sore hari. Adanya tanaman Acacia Nilotica yang menginvasi  savana, dalam perkembangannya memiliki fungsi penting sebagai sumber pakan satwa herbivora pada saat musim kemarau.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi TN Baluran supaya Anda bisa merasakan nuansa Afrika di Pulau Jawa, dan mulailah petualangan di sana!

 

Penulis : Ria E. Pratiwi

Editor   : Muhammad Pamungkas

Dimuat : Majalah Lintas Nusa Edisi 26 – 2016

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment