Figur 

Targetkan Jadi Bank No. 1 di Indonesia

Achmad Baiquni, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Achmad Baiquni telah ditetapkan menjadi nakhoda baru PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) sejak Maret 2015. Pada waktu itu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BNI mengangkat dia sebagai Direktur Utama (Dirut) menggantikan Gatot M. Suwondo yang telah habis masa jabatannya. Sebelumnya, Baiquni menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) pada periode 2010-2015.

Pria kelahiran Surabaya tahun 1957 ini sudah malang melintang selama lebih dari 30 tahun di dunia perbankan. Karir perbankannya dimulai di BNI pada 1984, kemudian seiring dengan penanjakan karirnya di sana, ia pun pernah menduduki beberapa jabatan manajerial, di antaranya adalah Direktur Bisnis Usaha Kecil, Menengah, dan Syariah BNI (2008-2010); Direktur Korporasi BNI (2006-2008); serta Direktur Konsumer BNI (2003-2006).

Dalam hal pendidikan formal‎, Baiquni meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjajaran, Bandung pada 1982, selanjutnya dia memperoleh gelar Master of Business Management dari Asian Institute of Management, Makati, Filipina, pada 1992.

Kemampuannya mengelola bank terus diasah dengan mengikuti beberapa pelatihan, kursus, dan seminar perbankan, di antaranya adalah Risk Management in Retail Banking yang diadakan oleh BSMR  di Belanda; Executive Training for Director yang diadakan oleh The Wharton School of The University of Pennsylvania  di Amerika Serikat (AS); Bank Indonesia’s Executive Risk Management Certification yang digelar oleh BSMR  di Singapura. Selain itu, ia juga pernah mengikuti Retail Banking Conference yang diadakan oleh LAFERTY di Singapura, serta Asian Bankers Surveyor Program yang digelar oleh Bank of New York, di New York AS dan lain-lain.

Kinerja Keuangan BNI

Di bawah kepemimpinan Baiquni, kinerja BNI menjadi semakin bagus. Sampai kuartal III-2016, BNI menorehkan laba Rp7,72 triliun atau tumbuh 28,7% dibandingkan periode sama tahun lalu. Kenaikan laba itu didorong oleh kinerja penyaluran kredit yang tumbuh stabil sejak awal tahun. Hal ini menyebabkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sekira 15,9%, dari Rp19,02 triliun menjadi Rp21,87 triliun. Laba dari pendapatan non bunga juga turut naik 20% menjadi Rp6,24 triliun dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp5,19 triliun. Sementara, pendapatan berbasis komisi (fee based income) bertumbuh 20%.

Kalau untuk penyaluran kredit, BNI mencatatkan kenaikan sebesar 21,1% menjadi sebesar Rp372,02 triliun daripada periode sama tahun lalu. Kredit BNI lebih banyak disalurkan ke segmen business banking yakni sejumlah 73% dari total kredit atau sebesar Rp271,68 triliun, dan ini tumbuh 23,5% dibandingkan periode sama tahun lalu. Komposisi penyaluran kredit business banking adalah sebagai berikut: korporasi (24,3%), BUMN (19,1%), menengah (16,3%), dan kecil (13,3%).

Pada kuartal III-2016 pula, total aset BNI tercatat sebesar Rp571,51 triliun atau tumbuh 25,2% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan, rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross sebesar 3,1%; loan to deposit ratio (LDR) adalah 92,8%. Selanjutnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yaitu 18,4%.

Sementara, dana pihak ketiga (DPK) yang terhimpun per kuartal III tahun ini mencapai Rp401,88 triliun atau meningkat 15% dibandingkan periode sama tahun lalu. Adapun komponen dana murah masih mendominasi, yaitu sebesar 59,7% dari total DPK.

Pengembangan Bisnis di Dalam & Luar Negeri

Untuk semakin mengembangkan bisnis BNI, pada awal Agustus 2016 lalu, Achmad Baiquni meresmikan Kantor Wilayah (Kanwil) Yogyakarta dan Malang. Pembukaan kanwil di kedua kota itu disebabkan semakin luasnya area yang harus dikelola, dan perlunya penajaman bisnis di Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur (Jatim). Lalu, karena diprediksikan juga jikalau pertumbuhan ekonomi di ketiga daerah itu berpotensi melaju lebih pesat lagi dalam beberapa tahun ke depan.

“Wilayah di Jateng dan Jatim itu cakupannya sangat luas, sehingga perlu dilakukan pemekaran untuk meningkatkan span of control dan mengoptimalkan potensi bisnis. Pemekaran ini akan meningkatkan fungsi intermediasi di sana, sehingga pembangunan ekonomi di kawasan itu pun diharapkan akan lebih terpacu,” ungkap Baiquni.

Selain itu, kemungkinan besar BNI akan lebih banyak membuka agen bank dalam beberapa tahun ke depan. Hal tersebut guna mendorong penghimpunan DPK dan biaya overhead yang lebih rendah. “Kami juga masih memiliki rencana membuka kantor cabang lagi, namun sebagian besar di luar jawa,” ujar Baiquni.

Tak hanya di dalam negeri, pengembangan bisnis BNI juga dilakukan di luar negeri, tepatnya di Singapura. Setelah mengoperasikan Kantor Cabang di kawasan Robinson Point dan BNI Remittance Center di Lucky Plaza, Orchard Road, Singapura, BNI semakin memperluas jangkauan layanan remitansi di Singapura. Yakni dengan membuka satu lagi BNI Remittance Center di City Plaza pada Februari 2016 lalu.

Pria berkacamata itu menjelaskan bahwa perluasan kantor layanan tersebut dimaksudkan untuk memberikan tambahan kemudahan bagi para tenaga migran Indonesia dalam melakukan transaksi pengiriman uang ke Indonesia.

Target Jadi Bank No. 1

Achmad Baiquni mempunyai target menjadikan BNI sebagai bank nomor satu di Tanah Air dengan memacu aspek kinerjanya. Sebab, sebelum krisis ekonomi, bank tersebut sebenarnya sudah berada di posisi nomor satu, namun kini menurun di nomor empat. “Tentu untuk mencapai posisi nomor satu, tidak bisa dilakukan waktu cepat. Paling tidak butuh waktu lima tahun,” ucapnya.

Arah BNI menuju bank nomor satu, tutur Baiquni, sudah cukup terlihat. Dia mencontohkan pertumbuhan kinerja BNI pada semester I 2016 lumayan signifikan yakni sebesar 24%, baik aset, pembiayaan maupun lainnya, dan ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri perbankan yang hanya berada di kisaran 10% saja.

Pertumbuhan kinerja sebesar itu jelas jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan di sektor riil yang pada kuartal pertama 2016 cuma di bawah 5%. Dan yang menggembirakan, kinerja yang membaik itu terjadi di saat ekonomi sedang melesu. BNI memang berkomitmen, saat ekonomi melesu tetap harus melakukan ekspansi dengan menyalurkan pembiayaan sehingga dapat menggerakkan sektor riil. “Kalau di situasi ekonomi melesu bank tidak melakukan pembiayaan, maka kondisi perekonomian justru dikhawatirkan akan lebih memburuk,” paparnya.

Dan, ke depannya, ia juga akan terus berusaha menjaga kualitas kredit dari banknya. Walaupun semakin besar kredit yang digelontorkan BNI kepada debiturnya, namun kredit macet atau non performing loan (NPL)-nya harus tetap berada dalam level yang rendah.

Penulis  : Ria E. Pratiwi

Editor    : Muhammad Pamungkas

Dimuat  : Majalah Channel Edisi 65-2016

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment