Teknologi Plasma Pereduksi Gas Emisi

Kondisi udara di kota-kota besar bukanlah hal yang tidak serius. Mengapa tidak? Pasalnya tingkat polusi kota-kota besar, khususnya Jakarta sangatlah tinggi hingga mencapai ambang batas yang amat membahayakan kesehatan manusia dan juga lingkungan hidup.

Pencemaran pun sudah tak terelakan akibat peningkatan volume kendaraan yang sangat besar setiap tahunnya. Angkutan darat menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara. Udara yaang tercemar itu memiliki komposisi gas sisa SO2 , NO2, HC, dan CO ditambah dengan debu.

Gas-gas tersebut berasal dari corong pembuangan gas atau yang biasa disebut Muffler. Gas-gas inilah yang berdampak buruk pada kesehatan dan penyebab berbagai penyakit. Penyakit yang ditimbulkan sangat beragam, seperti menurunnya daya tahan tubuh, bertambahnya penyakit menular, meningkatnya penyakit mata dan kanker kulit. Bahkan yang patut kita waspadai ialah gas CO. Sebab, gas CO dapat menyebabkan kematian.

 

Knalpot Plasma

Sebagai solusi untuk menanggulangi permasalahan polusi beberapa ahli fisika dan kimia yang tergabung dalam sebuah tim yang terdiri dari Dr. Muhammad Nur (ahli Fisika Plasma), Drs. Ahmad Suseno, M.Si (Ahli Kima Fisika) dan Dra. Sumaryah, MSi (Ahli Fisika Instrumentasi)  mengembangkan suatu sistem pereduksi Gas Emisi NOx, SOx, COx dan HC melalui pemanfaatan teknologi plasma non-termik. Penelitian ini menciptakan knalpot antipolusi berteknologi plasma sejak tahun 1998 hingga tahun 2004.

Ketika gas-gas emisi ini dilewatkan dalam sistem reaktor, semuanya dibangkitkan menjadi plasma. Dimana, plasma ini adalah gas yang terionisasi. Kemudian ada yang menjadi radikal bebas maupun atom yang secara fisis telah tereksistasi. Sehingga ketika gas tersebut keluar dari reaktor sudah menjadi sesuatu yang baru tidak lagi bersifat polutan.

Knalpot ini mampu mengubah gas emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor menjadi senyawa baru yang netral dan tidak berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Secara teknis, knalpot antipolusi ditempatkan sebuah reaktor plasma di dalam knalpot kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil.

Knalpot plasma ini berdasarkan uji coba yang sudah dilakukan mampu mereduksi gas buang seperti senyawa CO2 hingga 70 persen, CO 93 persen, dan HC mencapai 70 persen. Karena gas buang beracun yang direduksi sangat tinggi, maka kadar oksigen yang sangat dibutuhkan makhluk hidup dapat naik hingga 50 persentase.

Sistem pereduksi berteknologi plasma sangat tepat digunakan untuk mengendalikan gas emisi dari pembakaran hidrokarbon dan untuk transportasi. Sistem teknologi plasma telah diintergasikan dengan knalpot kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Reaktor untuk teknologi plasma pun dirancang sedemikian rupa sehingga tidak merubah dan tidak mempengaruhi bentuk standar dari kendaraan.

Keunggulan dari sistem pengendalian gas emisi dengan teknologi plasma adalah pengendalian dapat dilakukan terus-menerus asalkan sumberdaya reaktor tetap dihidupkan tanpa kekhawatiran terhadap penurunan keaktifan.

 

Hasil Netralisasi Reaktor Plasma

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan analisis spektroskopi, sejumlah senyawa baru yang terbentuk dari reaktor plasma adalah Amonium Sulfat dan Amonium Karbonat. Reaktor plasma itu merupakan suatu sistem yang dapat mengubah fase gas menjadi fase plasma. Agar dapat bekerja secara baik, reaktor plasma membutuhkan sumber tenaga pembangkit berupa energi listrik.

Berdasarkan hasil uji coba di laboratorium, unsur polutan atau gas emisi yang dikeluarkan kendaraan dapat dinetralisasi hingga mencapai 100 persen. Karbon dioksida misalnya, setelah diproses dalam knalpot berteknologi plasma dapat dinetralisasi hingga 86,5 persen, gas karbon monoksida (CO) dapat menyusut hingga 88,9 persen dan gas hidrokarbon (HC) dapat menyusut 97,37 persen dengan perputaran mesin mencapai 2.200 rpm.

Sedangkan gas nitrogen dioksida dapat dinetralisasi hingga 76,19 persen pada putaran mesin 4.600 rpm. Kombinasi ini menghasilkan tingkat pereduksian yang cukup tinggi untuk berbagai gas emisi. Seperti Cox, Nox, Sox, dan HC dari kendaraan berbahan bakar bensin dan solar.

 

Penulis : Candra Fivetya

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment