Thermoscan untuk MERS di Bandara

Untuk mencegah menyebarnya virus MERS, maka Thermoscan dihadirkan di bandara-bandara khusus di bandara internasional.

Pesatnya penyebaran virus MERS di beberapa negara, menjadikan pemerintah semakin waspada dengan titik-titik tempat yang menjadi pintu masuknya para warga asing yang datang ke Indonesia, seperti bandara. Kini, di bandara-bandara internasional seperti Soekarno-Hatta (Soetta) ada alat pendeteksi virus MERS pada tubuh manusia. Alat pendeteksi tersebut adalah Thermoscan.

 

Thermoscan di Soetta

Alat pendeteksi vrius, Thermoscan  kini telah dipasang di Bandara Soekarno-Hatta. Pihak Bandara Internasional Soekarno-Hatta memasang dua unit Thermoscan untuk memindai suhu tubuh setiap penumpang yang baru tiba di terminal kedatangan bandara. Dua unit Thermoscan yang bentuknya mirip speaker dengan sensor inframerah untuk mendeteksi panas tubuh penumpang yang melintas sudah terpasang di dekat eskalator menuju tempat imigrasi bandara.

Dua alat pendeteksi tersebut masing-masing terhubung dengan satu unit komputer dan kamera untuk merekam gambar penumpang. Suhu tubuh penumpang yang lewat nantinya akan langsung terpampang di layar komputer dan akan langsung diarahkan petugas bilamana suhu tubuhnya melebihi 38 derajat celcius. Setelah suspect MERS terdeteksi, petugas medis akan membawa penumpang tersebut ke holding area atau area isolasi untuk diobservasi lebih lanjut.

Upaya pemerintah dalam memasang alat deteksi virus di tempat umum itu sudah sangat tepat. Apalagi dengan tindakan medis dengan membawa pengidap virus ke ruang isloasi untuk diobservasi agar penyebaran virus tidak lagi meluas. Hal ini juga perlu didukung oleh masyarakat yang selalu menjaga kesehatannya dan kebersihan tentunya agar tidak mudah terinfeksi virus mematikan ini.

 

Apa itu MERS?

Ada lagi virus baru yang sangat mematikan dan membuat seluruh dunia dalam keadaan darurat kesehatan. Virus itu diketahui pada 2012 dan dikenal dengan nama Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Virus yang sangat mematikan disebabkan oleh virus Corona MERS. MERS juga sudah menyerang Arab Saudi, Qatar dan negara Timur Tengah lainnya. Parahnya lagi, virus tersebut baru belum ada vaksinnya.

Virus MERS sebetulnya hampir sama dengan virus SARS Corona. Hanya saja virus MERS ini lebih mematikan diiukur dari angka kematian yang disebabkan virus MERS sebesar 50% lebih besar dari virus SARS yang hanya 10%. Pasalnya, virus MERS yang belum ada obatnya sudah menelan banyak korban.

 

Awas, MERS!

Penting sekali untuk mengetahui ciri-ciri dari virus MERS, guna dapat mengambil tindakan yang tepat dan cepat. Umumnya, gejala dari infeksi MERS mirip dengan influenza seperti virus SARS. Keduanya sama-sama pneumonia yang disebabkan oleh virus.

Meskipun gejala pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dan virus yang sama, namun virus ternyata lebih berbahaya dibandingkan dengan bakteri. Hal ini dikarenakan virus penyebab pneumonia tinggi sekali virulensinya. Virulensi merupakan kemampuan virus yang dapat menyebabkan penyakit atau derajat tingkat patogenitas yang diukur oleh banyaknya organisme yang diperlukan untuk menimbulkan penyakit pada jangka waktu tertentu.

Pada pneumonia yang disebabkan virus, perkembangan penyakit bisa hanya dalam hitungan jam, bukan lagi hari. Sehingga sekali gejala muncul, pasien perlu segera memeriksakan diri untuk mencegah perkembangan penyakit semakin luas. Masa inkubasi dari virus hingga menyebabkan penyakit adalah 2 hingga 14 hari. Sehingga, mungkin saja seseorang terinfeksi virus Corona MERS di Timur Tengah dan kemudian gejala baru timbul begitu sudah kembali ke negara asal.

Ada beberapa hal yang harus kita ketahui untuk mengenali apa saja tanda-tanda orang terkena virus yang MERS. Karena menyerang saluran pernafasan maka tanda-tanda penyakit MERS antara lain adalah gangguan pernapasan (napas pendek dan susah bernapas), demam tinggi di atas 38 derajat celcius yang disertai batuk-batuk dan bersin-bersin berkelanjutan. Tanda lainnya keluar mucus (lendir) yang berlebihan dari hidungnya, sakit dada dan sering terasa nyeri. Kemudian tanda lainnya mengalami pneumonia dan diare. Indikasi yang paling parah adalah kemungkinan terjadinya gagal ginjal.

 

Penulis : Novita Puspa

Editor   : Muhammad Pamungkas

Bagikan berita ini :

Related posts

Leave a Comment